Artists

Rizal Misilu
Rizal Misilu - Gorontalo, 1972
Pendidikan : Disain Komunikasi Visual, FSRD-ISI Yogyakarta (1991 - 1996)
Kelas Copywriter di ITKP Jakarta (2000)
Berkarir di beberapa perusahaan advertising di Jakarta.
Art Director di Ad3com (1997-2000), Art Director di Sil-Ad Communications(2000), Art Director di Lingkar komunikasi (2001-2002), Creative Director di CN Communications (2002-
2018).
Project Manager Sosialisasi program Direktorat Kementerian Pekerjaan Umum
dan Perumahan Rakyat melalui media animasi tahun 2011 - 2018.
Tahun 2014 hingga saat ini aktif berkesenian (seni drawing) di Yogyakarta.
Tergabung dalam kelompok TUPALO (Perupa Gorontalo) dan kelompok
Art Sarekat (Gusmen Heriadi, Syam Terrajana dan Tan Maidil) Yogyakarta
Rizqi Maulana
Rizqi Maulana was born in Sidoarjo, East Java in 1996. In his practice, Rizqi explores Javanese spiritual values, traditional culture and local myths, and the visual languages through which they are conveyed. These ideas are then reinterpreted and recontextualised to explore issues in contemporary society.

Rudy Murdock
Rudy Murdock lahir dalam keluarga militer yang keras, proses kreatifnya dimulai dengan musik sejak remaja dengan melakukan protes terhadap hal-hal menyimpang.
Pada fase berikutnya proses itu mengembara pada visual candu, operasi, pathologi sosial dalam sliding gambar yang tampil tidak mengangkat issue populer dan apalagi diharapkan oleh khalayak umum.
Rudi Murdock mengoperasi sendiri secara acak dan membabi buat tentang angle dan peristiwa, figure, rekaan, simbol, perwujudan bentuk dll. seolah-olah mengajak viewer pada pengembaraan rahasia tentang apa siapa kapan dan mengapa atau mungkin viewer mengalami respon deadlock.

Sastra Wibawa
Putu Sastra Wibawa, lahir di Bali tahun 1991 dan kini tinggal serta berkarya
di Yogyakarta. Dalam proses berkesenian, saya cenderung memilih
pendekatan visual yang sunyi dan meditatif, untuk mengolah pengalaman
dan emosi personal secara minimal. Belakangan ini, Bali menjadi lanskap
batin dalam karya-karya saya, tempat saya menggali kembali ritus,
spiritualitas, dan serpihan ingatan budaya. Lewat itu semua, saya mencoba
merawat keterhubungan dengan akar dan menyusun ulang identitas yang
berserakan.

Septian Harriyoga
(l. Indonesia, 1977)
Septian Harriyoga merupakan perupa Bandung yang dikenal dengan patungpatung kinetik logamnya. Ia belajar patung di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung dan lulus tahun 2004. Ia bekerja menggunakan baja, aluminium, duralumin, dan batu untuk menciptakan karya-karya yang ringan, melayang, dan tak bersudut. Septian merupakan seorang perupa yang menekankan pada pentingnya praktek studio dalam kekaryaannya untuk mendapatkan kebebasan mengeksplorasi bentuk dan teknik, serta mendapatkan pengalaman yang mendalam dengan material dan proses berkarya. Hasilnya adalah karya-karya patung yang halus yang secara sederhana dapat dinikmati melalui bentuknya tetapi juga mengundang para penonton untuk merenungi dan menciptakan interpretasinya sendiri.
Tian menyelenggarakan pameran tunggalnya yang berjudul “Circle” di Wot Batu, Bandung tahun 2018 dan juga telah berpartisipasi pada berbagai pameran kelompok seperti “Daur Kinetik” di Museum Seni Rupa dan Keramik (2019), “Trienal Seni Patung Indonesia: Versi” di Galeri Nasional Indonesia (2014), “Simpangan: Seni Patung Baru” di Galeri Salihara (2012), dan “Manifesto” di Galeri Nasional Indonesia (2008).



