Artists

Suryani Indah Sari
(l. 1999)
Lahir di Padang, bekerja dan tinggal di Yogyakarta, Indonesia.
Suryani Indah Sari adalah seorang seniman visual yang pernah menempuh pendidikan Kriya Seni di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Praktiknya berfokus pada eksplorasi material benang dan teknik sulam. Karya saya tertarik pada bagaimana cahaya memengaruhi warna dan bentuk, bagaimana tekstur dapat menciptakan pengalaman visual yang unik. Saya mencari cara untuk memadukan teknik tradisional dengan media modern. Dalam setiap karya saya, saya berusaha untuk memberikan sentuhan personal dalam biota laut, saya melihat bayangan diri kita sendiri, sebuah refleksi tentang kehidupan, kematian, dan regenerasi. Dalam keheningan laut, biota laut berbicara dengan bahasa yang hanya dapat dipahami oleh hati. Saya harap karya saya dapat memberikan pengalaman visual yang tak terlupakan dan menginspirasi orang lain untuk melihat keindahan dan keunikan di sekitar mereka, serta mendorong mereka untuk mempertanyakan hubungan dengan alam.

Theresia Agustina Sitompul
(b. Indonesia, 1981)
Theresia Agustina Sitompul, atau yang lebih dikenal sebagai Tere, merupakan seniman Indonesia sering menggunakan teknik seni grafis dalam karyanya. Ia mendapatkan gelar sarjana pada 2007 dan gelar magister pada 2011,
keduanya dari Institut Seni Indonesia di Yogyakarta. Selama bertahun-tahun ia
telah bereksperimen dan memperluas praktik seni grafisnya di luar konvensi
dengan mengubah material grafis seperti kertas, kain kasa, kertas karbon, kain,
dan pelat logam menjadi buku, instalasi, atau bahkan patung. Karya-karyanya
mengeksplorasi keagenan manusia di tengah interaksi sosio-kultural yang
semakin kompleks sekaligus hubungan spiritual dan religius yang ada di dalamnya,
terutama dalam perannya sebagai seorang ibu dan seniman. Karya-karya Theresia
mengangkat tema-tema seputar kebahagiaan, kekhawatiran, dan juga
harapannya dalam hubungannya dengan anak-anaknya.
Pada tahun 2001, Theresia turut mendirikan kolektif seni grafis Yogyakarta,
Grafis Minggiran, dan pada tahun 2007 ia juga turut mendirikan Art Merdeka Studio.
Selama karirnya, ia telah memenangkan berbagai anugerah antara lain, "The 1st
Winner Belanja Grosir sambil Plesir, Mural Competition ITC", Surabaya (2005);
"The 3rd Winner Indonesia Triennial Printmaking IV" (2012); finalis "Indonesian Art
Awards - 'Idiolect'" (2013); dan finalis "the 2012-2013 Sovereign Asian Art Prize" (2013).
Karya barunya, Kembara Biru (2022), ditampilkan dalam Museum MACAN UOB
Children Art Space, yang merupakan sebuah instalasi interaktif yang didedikasikan
untuk anak-anak. Ia kini tinggal dan bekerja di Yogyakarta dan juga mengajar di
Institut Seni Indonesia di Surakarta.

Tifani Anggun
Born on October 9 1996, currently live and work in Jakarta, Indonesia.
Tifani Anggun Saraswati is an emerging artist, her career in visual art started
in 2023. Her education background in interior design and her main job
as an interior designer has been influenced a lot about her point of view
in materials, colors and textures. Her interest grows in unconventional
material, such as latex. Its transparency and the unpredictable behavior of
it is one of the reason she uses this material. She let it takes her to the end
of process without any certainty.
Having difficulty in remembering certain event in the past, but she finds
that colors stay the longest in her mind. Those colors then becoming the
main concept in her works. Combining colors, texture and the transparency
of latex. From the first until the last layers of latex are put one at a
time, it takes about a day for one layer of latex to cured and ready for the
next layer. This process takes quite of a time to finally making one final
work. But she enjoys every single process of making her work, like it is a
meditative process to her.
Timoteus Anggawan Kusno
Timoteus Anggawan Kusno is a multi-disciplinary artist, researcher, and filmmaker who presents his works through installations, drawings, moving images, and institutional projects. He navigates the boundary between fiction and history, imagination and memory, and addresses the lasting effects of colonialism and power through his narratives.

Tjokorda Bagus Wiratmaja
Tjokorda Bagus Wiratmaja, lahir di Ubud Bali 17 februari 1984.
Mengenyam pendidikan di SMSR Batubulan menempuh pendidikan S1
dan S2 di ISI Yogyakarta. Karir profesional keseniman ditekuni dari tahun
2004 sampai sekarang. Event solo exhibition, group exhibition, FKY, UOB,
dan GGIAA sudah pernah terpilih serta terselenggara. Sering mengikuti
pameran di Indonesia, sempat juga berpameran bersama di Singapore,
Romania, Malta, Malaysia, Taiwan, dan Laos.
Tobias Richardson
Tobias Richardson’s studio-based practice is informed by travel, community and artist residencies. He incorporates autobiographical investigation expressed through the depiction of built environments. In 2015 he visited Krack! in Yogyakarta and created a series of gouache paintings of haunted houses after a visit to the annual Sekaten night market. For This exhibition, Krack! worked with him to create a large-scale recreation of one of those works.



