Make Chaos Great Again!

16 Mei 2026
-
5 Juli 2026
Ranuza, RW.4, Gondangdia, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10350, Indonesia
Make chaos great again!
16 Mei – 5 Juli 2026
· Presentasi 1: disfigurasi
16 Mei -12 Juni
· Presentasi 2: gaung
13 Juni- 5 Juli
Lukisan-lukisan Yoga menjelajahi kondisi krisis, menginvestigasi seraya mendeformasi bentuk-bentuk figur manusia. Karyanya mengarahkan kita pada gambaran mengenai chaos,kekacauan, lenyapnya tatanan: batas-batas tipis antara kehancuran dan slogan tentang ‘kebesaran’.
Deformasi atau pemiuhan figur menghadirkan kondisi paradoks: hadir sekaligus ‘menghilang’. “Menghilang’ tidak menunjuk pada ketiadaan total, tapi proses peluruhan, pengaburan, penghapusan dan penekanan kembali, yang seakan bekerja dari ‘dalam’ bentuk figur itu sendiri. Sejak gambaran mengenai tubuh utuh dalam sejarah seni lukis terus dipersoalkan, citra disfiguratif—the outside of anatomy—dan tegangan pada lukisan Yoga jelas menggarisbawahi hal itu: figur ambyar sebagai medan konflik alih-alih keselarasan atau keteraturan.
Karya-karya Yoga merekomendasikan sikap melambat dalam mengapresiasi ekspresi estetik. Menuntut waktu untuk memperhatikan lapisan tekstur, tekanan pada goresan, kekerasan dan kehancuran melalui warna, dan tegangan untuk “menciptakan bencana pada permukaan kanvas” —seperti dikatakan Adrian Ghenie, perupa yang karyanya banyak mempengaruhi Yoga.
Presentasi karya pada pameran ini dibagi dua bagian. Bagian pertama, ‘disfigurasi’ dan kedua, ‘gaung’ merupakan seri berkesinambungan tentang chaos sebagai masa lalu dan masa depan kita bersama.
G O M B Y O R
“[…] Sungguh sial, kita harus menjadi jiwa bagi suatu tubuh yang dirakit sekenanya, yang matanya tak dapat memandang tanpa dibasuh setiap sepuluh, dua puluh detik….Bagaimana orang mesti percaya bahwa tubuhnya adalah ungkapan yang tepat dari jiwa yang semayam di dalamnya? “
- Milan Kundera
“[…] No matter how you think of your work, no matter how you think of the world, when you are in front of the canvas, you have a stupidity attack. – Adrian Ghenie
Apakah tepat mengutip karya fiksi untuk menjelaskan lukisan? Fiksi lebih naratif dan puitis dalam menggambarkan identitas tokoh-tokohnya, sedangkan figur-figur pada lukisan tidak dapat menjelaskan citranya sendiri tanpa perangkat kata-kata. Betapapun sederhana, upaya verbal semacam itu tetap dibutuhkan.
Tubuh fisik manusia memang mirip rakitan. Tiap sepuluh sampai dua puluh detik mata berkedip, darah di dalam tubuh mengalir setelah dipompa, organ-organ pencernaan memeras ampas makanan, dan seterusnya. Begitulah kinerja rakitan pada tubuh kita. Untuk bisa mempercayai (bahwa ada jiwa yang terekspresikan melalui kehadiran tubuh), kata Kundera, kita “mesti melupakan bengkel kerja iseng yang merupakan asal-usul kita.” 1)
Lukisan figuratif/abstrak 2) Herru Yoga adalah hasil kerja ‘rakitan’ yang menggambarkan keadaan manusia seperti mimpi buruk. Saat kesadaran lelap dalam suatu mimpi, kita berupaya teriak agar segera terjaga. Di depan lukisan-lukisan Yoga kita mesti menunda pekikan atau teriakan, berharap agar dapat memandanginya dengan lebih lama. Mimpi buruk ‘disempurnakan’ pada lukisan-lukisan yang tampak ‘buruk’ itu: timpaan coreng-moreng pada segenap tampang orang, tubuh meleyot ke sana ke mari dengan anatomi tak keruan, pose-pose dan gestur yang janggal. Pendeknya, lukisan-lukisan figuratif yang tampak abstrak bagaimanapun adalah hasil garapan tetek bengek‘perbengkelan’ ala Kundera, untuk melahirkan ekspresi dari ‘jiwa yang semayam di dalamnya’. Namun Yoga telah memilih mengartikan cara melukisnya selama ini dengan jejak-jejak ‘tegangan’ (tension) yang semayam pada permukaan lukisan itu sendiri.
Yoga menulis begini, “Figur berada dalam keadaan paradoksal, hadir sekaligus menghilang. “Kehadiran’ (presence) tidak lagi dimaknai sebagai kejelasan bentuk atau keterbacaan figuratif, melainkan sebagai intensitas, jejak visual yang menandai keberadaan tanpa kepastian. Sebaliknya, penghilangan atau penghapusan (erasure) tidak menunjuk pada ketiadaan total, tapi proses peluruhan yang terus berlangsung.”
Pada lukisan tentu saja kita tidak menyaksikan hadirnya ‘keberlangsungan’ maupun aktivitas ‘peluruhan’. Proses ‘penghilangan’ atau ‘penghapusan’ sudah berhenti, karena “lukisan adalah statis”, seperti dikatakan Berger. Imaji lukisan tak mengenal awal dan akhir; diam-nya imaji tersebut mewartakan nirwaktu atau ketakberwaktuan. 3)
Tapi, perhatikan misalnya lukisan tentang Tuan Trump, Resonance of Disfigured Authority, 2026. Yoga tidak mengkarikaturkan sosok kontroversial ini. Sudah terlalu banyak hal begitu dibikin seniman akhir-akhir ini. Yang dihadirkannya adalah ruang (dan seakan-akan waktu) khaos, gaung dari maklumat dan bencana perang yang diciptakan tokoh itu. Figur Trump gombyor, posisi badannya menyamping, terkesan ragu atau bahkan hilang arah, dengan tampang lurus seperti timbunan daging melorot. Tuan Presiden hendak ‘memamerkan’ identitas busananya di depan latar ambyar tak menentu: puing, kobaran api, potongan tubuh yang menempel pada sosoknya. Kehancuran dan tampang gombyor-nya mewedarkan ke sekujur lukisan itu kontras tajam dengan jas warna gelap dan dasi merah, menjadi pusat tegangan dalam karya ini. Berada di seberang batas imajiner yang seakan membelah dua dunia, yang di sini dan di sana, sosok amburadul ini mau dikesankan oleh Yoga lebih sebagai yang ‘aktual’, di sini, bukan yang ‘sugestif’ atau di sana. 4) Ketakberwaktuan secara diam-diam menggaungkan kemewaktuan. Yang statis pada lukisan ini seakan-akan masih mengandung imaji-imaji ‘keberlangsungan’ di dalam persepsi kita.
Trump dilukis dengan “menghapus dan melukis kembali” tampang aslinya, menjauhi ‘keterbacaan figuratif’ dalam istilah Yoga. Rusak dulu, sukses (atau tidak sukses) belakangan. Itulah bagian yang tak terpisahkan dari apa yang sering disebut ‘aksiden’ dalam urusan melukis. Ciri-ciri figurasi lain berkembang sejalan dengan ke-‘rusakan’nya. 5) Disfigurasi melahirkan figur ‘baru’ dengan kemiripan yang ‘lebih jauh’ dari sekadar potret. ‘Kemiripan’ disfiguratif diandaikan lahir dari situasi ‘krisis’, —dalam konteks lukisan Yoga adalah perang abad 21 yang membara —bukan tiruan naturalistis dengan keterampilan melukis alla prima. 6)
*
Beberapa lukisan tampang dalam pameran ini menunjukkan jejak studi Yoga atas lukisan-lukisan Francis Bacon. Lukisan Bacon, khususnya tentang ‘teriakan’ memantik ketertarikan Yoga. Tampang (atau mulut) berteriak akan kerap kita jumpai pada karyanya. Teriakan pada lukisan Bacon bukanlah sumber produksi bunyi. Secara estetik Bacon mengisolasinya menjadi gema pekikan diam dalam lukisan —wahana yang memang tidak bisa berbunyi. Bukan seakan-akan sosok dalam lukisan itu yang tengah berteriak, khayal yang sia-sia belaka tentunya. Yang kita ‘dengar’ adalah teriakan lantang dari sebuah ‘gelanggang’ pada lukisan, bukan figur yang dilukis betapa pun penting dan masyhurnya tokoh itu. “Gelanggang’ atau arena ini menciptakan apa yang disebut ‘figural’, bukan yang figuratif. Gelanggang terkadang berfungsi seperti penumpu pada patung, ‘menghidupkan’ seraya mengisolasi figur (atau Figur) dari yang naratif, ilustratifdan figuratif. 7) Bacon pernah mengatakan ingin melukis mulut figurnya seperti Monet melukis sunset 8),objek persepsi yang bukan naratif atau ilustratif.
Untuk menghadirkan yang ‘figural’ Bacon memilih menghadirkan citra kedagingan yang ‘hidup’ ketimbang menggambar rupa fisiknya. Rupa fisik –katakanlah sekarang sebagai ‘figuratif’ (naratif) yang dipertentangkan dengan ‘figural’ (non-naratif; non-ilustratif)—adalah hasil rakitan yang di zaman kini sudah menjadi hobi sehari-hari: mempermak hidung atau melebarkan mata sipit. Kulit bocor duluan sebelum daging membusuk. Estetika daging (yang bisa) membusuk dan ‘menjerit’ dalam lukisan, itulah yang dimaui Bacon.
Sosok dan tampang-tampang figural pada lukisan Yoga tidak berkelit atau berpaling dari gagasan utama mengenai ‘teriakan’ Baconian. Akan tetapi gelanggang’ Yoga lebih cair. Yang dihadirkannya, seperti yang kita lihat pada beberapa lukisannya di pameran ini adalah suasana plen air, ruang terbuka-alam dan tak jarang bentang langit yang begitu jelas menaungi di atasnya. Kecenderungan Yoga pada suasana plen air tampak sangat jelas ketika menghadirkan sepasang figur yang terdistorsi, dipinjam dan dilukis ulang dengan merusaknya, Argenteuil (1874), sebuah lukisan impresionistis karya Manet yang menarik perhatiannya pada suasana dan ‘dialog’ antara keduanya.
Disfigurasi adalah ibarat keluar dari setelan (default) standar artistik keindahan. 9) Disfigurasi adalah gagasan mengenai yang estetik, yang mesti dibedakan dengan sekadar artistik. Lukisan artisik adalah karya yang…’They look good. They just look good…’. Artistik boleh diartikan dengan ‘membuat’ lukisan, sedangkan estetik adalah upaya menggugah makna di dalam ‘momen dipandangi-nya’ Berger, melalui unsur-unsur (statis, diam) yang membentuk sebuah karya. Yang estetik adalah tegangan yang berada di antara ‘forma lukisan yang statis dan model kehidupan (di luar) yang dinamis’, 10) Karya demikian mengundang penonton untuk mengalami semacam ‘gelanggang’ antara makna dan bukan makna.
Disfigurasi adalah figur yang hancur sebagai figur. Justru karena hancur, terbuka ruang lain untuk melihatnya sebagai figur atau yang figural atau bahkan Figur. Dengan kata lain, disfigurasi mau melampaui perangkap rezim naratif/ ilustratif figur. 11) Begitulah, “bentuk yang buruk dan tak selesai (bad taste) diterima sebagai karya seni, karena seni yang bersifat energetik, antiformalisme dan antiestetik. Objek estetik menjadi deformasi bentuk ketimbang formasi bentuk”. 12)
Sesudah Bacon, studi visual berikutnya yang dilakukan Yoga adalah lukisan-lukisan Adrian Ghenie. Ia menemukan putaran sapuan—'enerji krisis, a stupidity attack’—pada lukisan Ghenie yang mengingatkan perombakan potret pada lukisan Bacon. Pengaruh karya Ghenie pada Yoga juga beresonansi dengan lukisan plen air dalam tradisi impresionisme dua abad silam. Meski latar bentang langit biru-kehijauan yang cerah sering kita lihat pada karya beberapa pelukis kita, misalnya pada lukisan-lukisan lanskap berukuran besar Hendra Gunawan, tapi rasa ruang yang memayungi figur Yoga berasal dari ketertarikannya pada suasana lukisan impresionistis.
Presentasi bagian pertama pameran ini, disfigurasi, menghadirkan ‘tegangan’ berbau politik, pasca penyerangan besar-besaran Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, pecah pertama kali pada 28 Februari 2026. Ia tertarik pada tension akibat keputusan politik operasi gabungan militer yang brutal. Lukisan-lukisan seperti potret Trump pada Untitled, lalu Bound by the Same Fault dan We Failed to be Normal —semuanya diselesaikan tahun ini—meresonansikan suasana krisis dan abnormalitas.
Presentasi kedua, ‘gaung’ menampilkan karya penjelajahan ‘yang figural’ tanpa membatasi temanya. Tegangan yang sering dirasakan Yoga dalam hubungan personal atau dalam kehidupan sosial menemukan jalan keluarnya melalui ke-gombyor-an, ketidaklumrahan dan ketidaknormalan, figur-figur terdistorsi yang memberi gaung panjang pada bahasa lukisan yang diam. “Apa yang disumbangkan, baik oleh masa lalu, masa kini dan masa depan adalah suatu substrata, landasan bagi ketakberwaktuan,“ tulis Berger. Bahasa seni piktorial, karena statis, adalah bahasa —atau gaung—ketakberwaktuan itu. 13)
13/05/2026
Hendro Wiyanto Budiman
Catatan akhir:
1. Milan Kundera, Identitas (Yogyakarta: Penerbit Gading, 2018, hlm. 67), diterjemahkan oleh Landung Simatupang.
2. “[…] Essentially, every figurative painting is an abstract painting. It doesn’t matter whether the elements are put in an order that will suggest the sky or a field or a tree. You don’t paint those elements. You create an abstract gesture that will evoke them. For me, abstract painting is a genre that was created to prove something, but is has value only if it’s limited to certain phase of painting. […] that we invented the term ‘abstract painting’, which is actually a gigantic cover-up for the truth, that all real abstract paintings are figurative paintings… [….] to regard an entire painting as an abstract work is a clear sign that we’re having a serious misunderstanding.” (“Adrian Ghenie in Conversation with Michael Peppiatt” dalam Adrian Ghenie: Paintings 2014-19, Berlin: Hatje Cantz Verlag, 2020, disunting oleh Juerg Judin, hlm 83, 84)
Ada yang abstrak pada semua lukisan figuratif, kata Ghenie. Semua lukisan abstrak yang nyata abstrak adalah lukisan-lukisan figuratif, tidak ada karya/lukisan yang bisa dikatakan sepenuhnya abstrak. Gestur untuk menghadirkan yang figuratif adalah abstrak. Cara terbaik untuk menggubah lukisan-lukisan figuratif yang menarik adalah menyusunnya dengan elemen-elemen abstrak.
3. John Berger, “Once in a Painting” dalam And our Faces, my Heart, Brief as Photos (1984); https://openlibrary.org/books/OL1566286M/And_our_faces_my_heart_brief_as_photos; https://ms.z-library.sk/book/gjGZgn68RW/and-our-faces-my-heart-brief-as-photos.html?dsource=recommend
4. Lukisan kontemporer kerap kali adalah hasil dari proses ‘kecelakaan’ (accident). Karya Francis Bacon misalnya berkembang dari tanda atau jejak yang dibikin secara tanpa sengaja (involuntary marks) pada kanvasnya. Gambaran yang berkembang dari yang tak sengaja itulah yang sekaligus ‘faktual’ dan ‘sugestif’ bagi sistem syaraf si seniman dan yang menontonnya. (John Berger, “Francis Bacon and Walt Disney”, Selected Essays, 2003: 316). Bacon adalah salah satu pelukis favorit Yoga, pengaruhnya tampak pada penggambaran figur-figur yang terdistorsi.
5. Francis Bacon lagi: “…the ‘unlocking’ object is always the human body. Other things in his painting (chairs, shoes, blinds, lamp switches, newspapers) are merely illustrated.(Berger, idem). Objek-objek pada lukisan Bacon tersebut tak jarang pula hadir pada karya Yoga.
6. Seniman berkarya karena terdorong atau merasa berada dalam situasi yang dirasakannya krisis. Berada dalam situasi semacam itu, dengan putus asa ia ‘menyelamatkan’ diri dengan lukisannya, dan terus mengulanginya. Energi pada lukisan adalah energi di dalam krisis. Lukisannya, permukaannya, adalah semacam catatan harian dari pertarungan keras tersebut (hellish fight), seperti dikatakan Adrian Ghenie. (Kutipan dari wawancara Hans Ulrich Obrist dengan Adrian Ghenie; https://www.youtube.com/watch?v=UPOy364uF0E.)
Selain studi visual mengenai karya Bacon selama beberapa tahun, Herru Yoga juga tertarik pada gaya dan cara-cara melukis Ghenie.
7. Gilles Deleuze, Francis Bacon: The Logic of Sensation, diterjemahkan dari bahasa Prancis oleh Daniel W. Smith (London, New York: Continuum, 2003), hlm. 2, 4.
Terjemahan bahasa Indonesia buku ini diterbitkan oleh Penerbit Gang Kabel dan Penerbit Nyala (2022), diterjemahkan oleh Syarif Maulana dan Donny Ahmad.
8. Mengutip Berger lagi, Selected Essays, hlm. 318.
9. Setelan (default) mengenai ‘identitas’ atau ciri-ciri keindahan umum bisa diragukan, misalnya dengan mengatakan begini: “tubuh yang indah kok bisa-bisanya hanya menjadi mesin kuras kotoron…seorang gadis yang membuang ingus dari hidungnya.” (Kundera, hlm. 10).
10. Mengutip Berger lagi, “Once in a Painting” dalam And our Faces, my Heart, Brief as Photos (1984).
11. “ […] Is there not another type of relationship between Figures, one that would not be narrative, and from which no figuration would follow? Diverse Figures that would spring from the same fact, that would belong to one and the same unique fact rather than telling a story or referring to different objects in a figurative whole? Nonnarrative relationships between Figures, nonrelationships between the Figures and the fact? (Gilles Deleuze, Francis Bacon: The Logic of Sensation, hlm.2)
Figur berpasangan pada lukisan Argenteuil-nya Manet yang ‘dirusak’ Yoga dapat
dijadikan amsal pernyataan Deleuze tentang lukisan berpasangan-nya Bacon. Figur berpasangan tidak
mesti menarasikan cerita apa pun.
12. Yasraf Amir Piliang, TransEstetika 1: Seni dan Simulasi Realitas (Yogyakarta: Cantrik Pustaka), hlm. 46
13. Mengutip Berger lagi, “Once in a Painting”.














