top of page

Artists

Image-empty-state.png

Amina McConvell

Amina McConvell lives on Gulumoerrgin (Larrakia Country - Darwin). She works primarily with formalist abstraction, geometric Conceptualism and Non-Objective Abstraction, and locates her practice within the frame of expanded painting. She often makes large-scale site-specific works, either directly onto the walls or by installing pieces developed for the specifics of a gallery or alternative spaces.

Image-empty-state.png

Anastasia Astika

(b. Indonesia,1995)


Anastasia Astika, atau akrab dipanggil Tika, merupakan seniman Bandung yang berkarya lewat seni grafis dan kertas sebagai medium utamanya. Ia merupakan lulusan Program Studi Seni Rupa dari Institut Teknologi Bandung sejak tahun 2018. Selama studinya di ITB, ia menumbuhkan ketertarikan pada cetak dalam (intaglio), terutama dry point, etsa, dan aquatint. Teknik-teknik tersebut dikenal sebagai proses yang kompleks dan membutuhkan ketelitian, yang melibatkan berbagai reaksi kimia untuk menorehkan citraan yang diinginkan pada pelat logam serta mengandalkan sensibilitas dan pengetahuan seniman tentang material. Proses seni grafis telah membawanya pada pengalaman yang kontras antara meluapkan energi kreatifnya dan mengikuti prosedur yang ketat, antara mengeksplorasi bentuk organik dan menyusun komposisi yang detail. Dalam seri karya terbarunya, Tika menitikberatkan gagasannya pada aktivitas mengumpulkan fragmen memori personalnya yang melihat hubungan antara dirinya dan objek-objek keseharian di sekitarnya.

Image-empty-state.png

Andy Dewantoro

BIO

Born 1973 - TanjungKarang, Lampung, Indonesia


EDUCATION

[1995-2000] Interior Design, Faculty of Fine Art and Design,

Bandung Institute of Technology (ITB)

Image-empty-state.png

Andy Sueb

Image-empty-state.png

Antoe Budiono

Image-empty-state.png

Aqil Reza

Praktik berkeseniam Aqil adalah dengan membuat sebuah seri karya,

Secara tematik Aqil memiliki kecenderungan pada tema antoposen

(relasi manusia, alam dan teknologi). Dalam praktik seninya yang terbaru,

Aqil mengeksplorasi penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam proses

kreatifnya. Hasil dari AI generated tersebut kemudian dikolase dan

diolah lebih lanjut di media kanvas. Fokus utama karyanya terletak pada

hubungan antara manusia, alam dan teknologi. Pada periode sebelumnya,

Aqil sering menampilkan makhluk hidup non-manusia sebagai objek yang

diberi ruang untuk “berbicara” dalam karyanya. Aqil mulai mengeksplorasi

pendekatan baru dengan menjadikan tubuh manusia sebagai lanskap

utama dalam karyanya. Baginya, tubuh adalah ruang hidup yang paling

dekat dengan manusia, dan melalui tubuh, kesadaran terhadap alam dapat

dikembangkan. Ia mencoba menghubungkan ekosistem alami di luar

tubuh dengan “alam” yang ada di dalam tubuh manusia itu sendiri. Lewat

pendekatan ini, Aqil berharap bisa menumbuhkan kesadaran ekologis

dan bias realitas antroposen yang lebih dalam alih-alih menampilkan

kerusakan, ia berupaya membangun kesadaran yang dapat meminimalisasi

kerusakan sejak awal.

Image-empty-state.png

Atreyu Moniaga

Atreyu Moniaga is a multidisciplinary artist whose work explores the emotional and psychological terrain of human connection, behavior, and selfhood. His visual language—rooted in symbolism and intricate ornamentation—spans watercolor, oil, acrylic, and sculpture, reflecting a philosophical approach to image-making that is both personal and universal.


He has since exhibited alongside internationally acclaimed artists such as Ai Weiwei and Yayoi Kusama, and participated in a sold-out show with Gallery Carl Kostyál. His work has been featured in notable publications including Hong Kong Prestige and Ocula.


In 2013, he founded the Atreyu Moniaga Project, a free mentorship program for emerging illustrators and photographers. The initiative has nurtured a new generation of successful creatives, including WD Willy (Karafuru), Liffi Wongso (Sri Sasanti Gallery), Rapha Lisa (award-winning creative director), and Clasutta (Whitestone Gallery).

Image-empty-state.png

Bagus Panuntun

Image-empty-state.png

Bambang BP

Image-empty-state.png

Bestrizal Besta

Lives and Works in Yogyakarta

Image-empty-state.png

Bunga Yuridespita

Born Dec 24th 1989, Jakarta – Indonesia


Education

2008 – 2013 : Bachelor of Architecture

Universitas Pelita Harapan (UPH): Department of Architecture

2015 – 2017 : Master Degree Student in Fine Arts

Institut Teknologi Bandung (ITB) : Fakultas Desain dan Seni Rupa

Image-empty-state.png

Cinanti Astria Johansjah

Born in Balikpapan, 1985

Lives and works in Bandung


EDUCATION

2008BA Graphic Design, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi

Bandung, Bandung, Indonesia

bottom of page