Tirta: Ambang Alir

7 Maret 2026
-
10 Mei 2026
Jalan Taman Srigunting No.5, RW.6, Tj. Mas, Kec. Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah 50174, Indonesia
Tirta: Ambang Alir
Pameran Duapuluh Dua Seniman Sanggar Dewata Yogyakarta
Adi Gunawan • Agus Putu Suyadnya • Aqil Reza • Dapott Kesuma
Dewa Made Mustika • Didin Jirot • Gus Angga • I Gusti Ngurah Udiantara (Tantin)
I Made Lingkar Waru • I Made Widya Diputra (Lampung) • I Nyoman ‘Ateng’ Adiana
I Nyoman Darya • I Wayan Piki Suyersa • I Wayan Sarcita Yasa • I Wayan Sudarsana
Made Gadis • Marta Dwipayana • Putu Sutawijaya • Sastra Wibawa
Suanjaya Kencut • Tifani Anggun • Tjokorda Bagus Wiratmaja
written by
Asmudjo J. Irianto
Semarang Gallery
7 March - 10 May 2026
Tirta: Ambang Alir
Pameran Duapuluh Dua Seniman Sanggar Dewata Yogyakarta
Jarak, Asal, dan Medan yang Dipilih
Sanggar Dewata Indonesia Yogyakarta berdiri dalam jarak—jarak geografis dari Bali, tetapi bukan jarak kosmologis. Para anggotanya berasal dari Bali, atau tumbuh besar di Bali meskipun tidak semuanya keturunan Bali, lalu berproses di Yogyakarta: sebuah kota yang sejak lama menjadi pusat pendidikan seni dan salah satu simpul penting bagi perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Di antara dua ruang itu mereka hidup—membawa ingatan yang belum selesai, sekaligus bergerak dalam arus wacana, gagasan, dan percakapan yang terus berubah.
Jarak ini bukan sekadar persoalan tempat; ia juga sebuah posisi batin, sekaligus posisi pengetahuan. Bali yang tinggal di dalam ingatan tidak selalu sama dengan Bali yang dihidupi dari hari ke hari. Dari jauh, sesuatu dapat tampak lebih jelas sekaligus lebih samar. Yang dekat bisa terasa asing; yang jauh justru menjadi akrab. Di situlah posisi SDI Yogyakarta bekerja: mereka tidak sepenuhnya berada di dalam tradisi, tetapi juga tidak benar-benar di luar. Mereka berada di antara—pada sebuah ambang di mana jarak memungkinkan refleksi, bukan sekadar kehilangan.
Jika ditarik ke belakang, sekularisasi dalam seni rupa Bali bukanlah gejala yang muncul tiba-tiba. Sejak masa Pita Maha pada tahun 1930-an, praktik seni Bali mulai bergerak perlahan dari fungsi ritual menuju medan yang lebih otonom. Para pelukis tidak lagi semata bekerja bagi pura dan upacara, melainkan memasuki ruang pamer, koleksi, dan percakapan lintas budaya. Pada titik itu seni tidak kehilangan kosmologi—ia menggesernya. Kosmologi tidak lagi terutama hadir sebagai perangkat ritus, melainkan sebagai sensibilitas visual: cara melihat dunia, cara mengisi ruang, cara menata hubungan antara yang nyata dan yang tak kasatmata.
Gaya Batuan kemudian memperlihatkan bagaimana mitologi dan keseharian dapat dipadatkan dalam pengalaman visual yang rapat dan reflektif. Ia menunjukkan kemampuan tradisi untuk menyerap perubahan—bukan dengan menyerah, tetapi dengan mengolahnya dari dalam. Dalam sejarah itu kita melihat bahwa seni Bali tidak pernah berhenti pada satu bentuk. Ia bergerak: dari komunal menuju individual, dari fungsi menuju pilihan, dari ketetapan menuju pencarian.
Pameran ini lahir dari kesinambungan—dan sekaligus pergeseran lanjut—dari sejarah tersebut. Ia merupakan kurasi mandiri-kolektif: para anggota Sanggar Dewata Indonesia Yogyakarta memilih sendiri tema dan seniman yang terlibat, membangun medan gagasan dari dalam, tanpa kurator eksternal yang sejak awal menentukan arah. Pilihan ini penting. Ia menunjukkan kepercayaan bahwa sebuah kelompok dapat menemukan pijakan konseptualnya sendiri, sambil tetap membuka ruang bagi perbedaan di antara anggotanya.
Tema tirta dipilih bukan sekadar sebagai label yang menyatukan, melainkan sebagai pangkal yang dalam. Agama Hindu Bali kerap disebut sebagai Agama Tirta—air sebagai medium penyucian, perantara doa, sekaligus prinsip relasi antara manusia, alam, dan yang ilahiah. Dalam pengertian itu air bukan sekadar unsur alam; ia adalah cara hidup. Ia mengalir di antara ritus, keseharian, dan kosmologi. Di Bali, air tidak pernah netral: ia menyentuh etika, tata ruang, dan tatanan sosial; ia menjadi penanda keseimbangan.
Namun ketika tirta dibawa ke ruang seni rupa kontemporer, ia tidak lagi hadir sebagai ketetapan. Ia berubah menjadi pertanyaan dan pernyataan. Pertanyaan dan pernyataan itu tidak selalu diucapkan dalam kalimat; ia muncul dalam bentuk—dalam pilihan material, dalam teknik, dalam cara mengendapkan warna, dalam cara menggeser simbol, dalam cara menahan narasi agar tidak segera berubah menjadi rumusan yang terlalu mudah. Tirta, di sini, bisa hadir sebagai ingatan yang lembut, sebagai keresahan ekologis, sebagai kesunyian, bahkan sebagai imaji yang belum sempat diberi nama.
Karena pameran ini dibangun oleh dua puluh dua seniman yang masing-masing bergerak secara otonom, tirta segera menunjukkan sifatnya yang ganda: ia adalah tema yang mengikat, sekaligus tema yang membuka. Kita melihat keragaman sensibilitas rupa—sebuah spektrum pengalaman terhadap air yang tidak tunggal. Ada karya yang bekerja lewat kepadatan detail; ada yang justru memilih pengosongan dan penundaan. Ada yang mengandalkan figurasi dan cerita; ada yang mengandalkan permukaan, pantulan, atau endapan. Ada yang mendekati air sebagai sesuatu yang suci; ada yang merasakannya sebagai sesuatu yang genting; ada pula yang memperlakukannya sebagai sifat—cair, membias, memantul—sebagai cara berpikir visual.
Dalam keragaman itu, pemirsa tidak hanya diajak memahami tema, tetapi juga mengalami dampak visualnya. Bagaimana citra mengalir dan tertahan, bagaimana bentuk membangun jarak, bagaimana warna menjadi nada, bagaimana material meninggalkan jejak. Narasi kadang muncul sebagai isyarat, bukan sebagai penjelasan. Tirta tidak sekadar diceritakan; ia dikerjakan sebagai pengalaman—dan pengalaman itu sering kali lahir dari ketidakpastian: dari ambang, dari pergeseran, dari sesuatu yang belum selesai.
Dari sinilah pameran ini mulai menampakkan pertaruhannya: bagaimana sebuah kelompok yang secara asal terhubung dengan Bali, tetapi hidup dan berkarya di Yogyakarta, membawa tema yang begitu berakar itu ke dalam kemungkinan-kemungkinan yang plural. Dan pluralitas itulah—lebih dari keseragaman—yang membuka pintu untuk membaca Ambang Alir sebagai situasi pos-tradisi: ketika tradisi tetap hadir, tetapi tidak lagi menentukan satu jalur tunggal. Dari titik inilah kita mulai melihat bagaimana “tirta” bergerak dalam karya-karya para seniman—kadang sebagai citra yang nyata, kadang sebagai jejak yang nyaris tak terlihat.
Pos-Tradisi, Otonomi, dan Risiko yang Sunyi
Pertanyaan tentang tirta tidak muncul di ruang yang utuh dan pasti. Ia lahir dalam keadaan yang dapat disebut sebagai pos-tradisi—sebuah situasi ketika tradisi tidak lagi menjadi struktur tunggal yang sepenuhnya mengikat kehidupan, tetapi juga belum sepenuhnya ditinggalkan. Ia tidak hilang, tetapi bergeser. Ia tidak lagi hadir sebagai pakem yang pasti, melainkan sebagai ingatan yang bekerja dari dalam.
Pos-tradisi bukanlah penyangkalan terhadap tradisi, melainkan perubahan cara keberadaannya. Dalam Bali modern, perubahan itu terasa semakin nyata. Sistem kosmologis yang dahulu terjalin melalui ritus, tata ruang, dan pertanian—melalui relasi antara manusia, air, dan alam—kini berhadapan dengan kapitalisasi ruang, pariwisata massal, dan tekanan ekologis yang terus meningkat. Sungai dan mata air tidak lagi semata ruang penyucian; ia juga menjadi sumber daya, komoditas, bahkan kadang sumber konflik. Dalam situasi seperti itu, kesadaran kosmologis tentang air tidak lagi dapat diasumsikan sebagai sesuatu yang stabil. Ia diuji oleh perubahan. Ia dinegosiasikan oleh praktik kehidupan sehari-hari. Ia bahkan dipertanyakan kembali—bukan untuk ditolak, melainkan untuk dipahami dalam kondisi yang berbeda dari masa lalu.
Di sinilah posisi para seniman Sanggar Dewata Indonesia Yogyakarta menjadi menarik. Mereka mewarisi kosmologi Bali, tetapi bekerja dalam medan seni rupa kontemporer yang mengutamakan otonomi. Otonomi, dalam sejarah seni rupa Bali, merupakan salah satu capaian modernitas: ia membuka jarak dari fungsi ritual yang dahulu menjadi kerangka utama praktik seni, sekaligus memberi ruang bagi pilihan individual—bagi eksperimen, penyimpangan, dan pencarian bentuk yang lebih personal.
Namun setiap jarak juga menyimpan risiko. Ketika bahasa rupa tidak lagi menampilkan penanda tradisi secara eksplisit, identitas kultural tidak selalu mudah terbaca. Dalam beberapa karya di pameran ini, jejak formal ke-Balian memang tidak segera tampak. Ornamen, ikonografi, atau struktur visual yang dahulu menjadi tanda langsung kini tidak selalu hadir di permukaan. Tradisi tidak lagi berdiri sebagai citra yang terang; ia menjelma sebagai lapisan yang lebih sunyi—kadang tersirat, kadang tersembunyi—bekerja dari dalam bentuk, bukan dari permukaannya.
Risiko otonomi terletak pada kemungkinan bahwa lapisan-lapisan sunyi itu luput dari pembacaan. Tanpa ruang diskursif yang memadai—tanpa percakapan kritis, tanpa refleksi yang berkembang—karya dapat dengan mudah dibaca hanya sebagai ekspresi personal. Padahal di dalamnya mungkin bekerja kesadaran kosmologis yang telah mengalami transformasi. Namun di balik risiko itu, terdapat pula potensi yang tidak kalah penting.
Otonomi justru memungkinkan persoalan heteronom—dalam hal ini air sebagai spiritualitas sekaligus sebagai krisis ekologis—masuk ke wilayah bentuk tanpa harus tunduk pada narasi. Tirta tidak perlu selalu direpresentasikan secara literal untuk bekerja di dalam karya. Ia dapat hadir sebagai kepekaan terhadap keseimbangan, sebagai kesadaran relasional antara manusia dan alam, sebagai dorongan untuk menguji kembali cara kita menempatkan diri di dalam dunia yang terus berubah.
Dalam situasi liminal modernitas Bali, para seniman ini pada akhirnya menjadi cermin dari ketegangan itu sendiri. Mereka hidup setelah proses sekularisasi; mereka tidak lagi sepenuhnya berada di dalam sistem komunal ritual, tetapi juga tidak dapat memutus diri dari kosmologi yang membentuk latar batin mereka. Mereka berdiri di ambang—dan ambang itu bukan garis batas yang kaku, melainkan ruang negosiasi yang terus bergerak.
Ambang Alir, dengan demikian, tidak hanya menunjuk pada kondisi air di Bali yang berada dalam tekanan dan perubahan. Ia juga menunjuk pada kondisi seni rupa kontemporer yang bergerak di antara akar dan kebebasan, antara warisan dan pencarian bentuk baru. Aliran tidak lagi mengikuti satu jalur yang ditentukan oleh pakem; ia merespons kontur zaman, kontur persoalan, dan kontur kepekaan masing-masing seniman.
Di ambang itulah otonomi dan heteronomi saling bersilang. Tradisi tidak dipertahankan sebagai bentuk yang beku, tetapi juga tidak dilepaskan sebagai sesuatu yang usang. Ia tetap mengalir—kadang pelan, kadang retak, kadang membias—mengikuti ruang yang tersedia.Dan dari ruang itulah keragaman sensibilitas rupa dalam pameran ini mulai tampak sebagai konsekuensi, bukan kebetulan.
Spektrum Tafsir Tirta
Dalam pameran yang lahir dari kurasi mandiri para seniman, hubungan antara tema dan karya tidak selalu bergerak secara linear. Tema yang disepakati bersama lebih menyerupai titik berangkat percakapan daripada batas yang mengikat praktik artistik setiap peserta. Para seniman tetap bergerak sebagai subjek otonom—dengan bahasa rupa, medium, dan orientasi gagasan yang mereka pilih sendiri. Karena itu tidak mengherankan jika dalam Ambang Alir hubungan antara karya dan tirta hadir dalam berbagai tingkat kedekatan: ada yang menampilkannya secara langsung, ada yang menerjemahkannya sebagai metafor ekologis atau kosmologis, ada pula yang hanya menyerapnya sebagai prinsip visual yang lebih abstrak. Bahkan dalam beberapa karya, hubungan dengan tirta hampir tidak tampak di permukaan. Namun ketiadaan itu tidak serta-merta menempatkan karya di luar medan refleksi yang sebangun. Tema tirta dapat bekerja sebagai pemicu awal—sebuah gagasan yang kemudian berkembang menuju eksplorasi yang lebih luas mengenai alam, materialitas, teknologi, sosial, atau kondisi ekologis dunia yang terus berubah.
Jika dilihat secara keseluruhan, karya-karya dalam pameran ini bergerak dan berlabuh dalam berbagai kemungkinan. Dua puluh dua seniman yang terlibat justru memperlihatkan berbagai arah eksplorasi—baik dalam medium, bahasa rupa, teknik maupun orientasi konseptual. Keragaman ini membuat hubungan antara karya dan tema tirta lebih tepat dipahami sebagai spektrum tafsir, bukan sebagai gambaran yang sebangun terhadap satu gagasan yang sama.
Pada spektrum pertama muncul karya-karya yang tidak secara langsung berangkat dari tema air, melainkan menekankan eksplorasi bentuk, material, atau narasi visual yang relatif otonom. Karya objek Kadek Didin Jirot, misalnya, menghadirkan material industrial berupa stainless steel yang diremas menjadi struktur monumental. Judul Actual Sublime memberi kesan bahwa material itu sendiri sedang diangkat ke dalam pengalaman estetis yang bersifat ontologis. Eksplorasi material juga tampak dalam karya Ida Bagus Kesuma Udayana, yang memanfaatkan bambu dan arang dalam komposisi hitam-putih yang terasa primordial. Lukisan figuratif I Nyoman Darya menghadirkan pertemuan berbagai tokoh dunia—dari figur politik hingga ikon pop—dalam ruang visual yang padat. Sementara itu abstraksi visual I Wayan Piki Suyersa dalam karya Lintas Ambang bergerak dalam wilayah eksplorasi bentuk yang relatif bebas dari tema tirta, sebagaimana eksperimen material dalam karya Marta Dwipayana.
Spektrum berikutnya memperlihatkan karya-karya yang tidak secara langsung merepresentasikan air, tetapi menghubungkannya dengan persoalan ekologis atau naratif yang lebih luas. Dalam karya Adi Gunawan, sungai yang dihuni buaya dapat dibaca sebagai metafora mengenai kondisi air yang menyimpan potensi bahaya—sebuah bayangan tentang dunia ekologis yang tidak lagi sepenuhnya aman. Lukisan Agus Putu Suyadnya menghadirkan lanskap hutan yang tampak masih murni dengan aliran sungai kecil yang deras, namun kehadiran figur astronaut menciptakan suasana surealis—seolah-olah lanskap itu adalah dunia yang semakin jauh dari bumi yang terus mengalami eksploitasi. Pendekatan metaforis juga tampak dalam karya Putu Sutawijaya berjudul Melihat Air di Sebelah. Air tidak hadir secara visual dalam lukisan ini, tetapi justru dibayangkan sebagai sesuatu yang berada di luar bidang pandang—sesuatu yang dicari, atau disadari keberadaannya di tempat lain. Judul tersebut membuka kemungkinan pembacaan sosial mengenai kondisi masyarakat yang harus “melihat air di sebelah”: sebuah situasi ketika sumber air tidak lagi berada di ruang hidup mereka sendiri, melainkan terserap oleh ruang-ruang lain yang lebih kuat secara ekonomi.
Lukisan Aqil Reza menghadirkan figur manusia mutan bertangan enam dalam dunia post-human yang mencerminkan paradoks Antroposen: teknologi berkembang pesat, tetapi sekaligus mempercepat kerusakan ekologis. Karya Gus Angga menghadirkan sosok perempuan yang mengambang di atas permukaan air—sebuah metafor halus tentang relasi manusia dengan air sebagai elemen kehidupan. Lukisan I Made Lingkar Waru dengan kaktus berbunga dalam karya Hope in the Dry Season menghadirkan kerinduan akan air dalam lanskap yang kering. Demikian pula lukisan I Nyoman Ateng Adiana berjudul Ijo Royo-Royo yang menampilkan lanskap subur, secara implisit menunjuk pada pentingnya air bagi kehidupan alam dan pertanian. Lukisan Dewa Made Mustika bergerak dalam arah serupa, menghadirkan lanskap harmoni alam tanpa kehadiran manusia—sebuah gambaran yang mengingatkan pada keseimbangan ekologis yang kian rapuh.
Spektrum lain menghadirkan karya-karya yang menempatkan air secara lebih langsung sebagai tema visual. Dalam lukisan surealis I Wayan Sudarsana, siklus perpindahan air menjadi pusat narasi visual yang menghubungkan imajinasi surealis dengan persoalan ekologis. Sementara itu karya batik Made Gadis berjudul Tat Twam Asi membawa refleksi mengenai air ke dalam ranah relasi sosial dan ekologis—menghubungkan keberadaan manusia dengan prinsip kesatuan kehidupan yang lebih luas.
Ada pula karya-karya yang masih membawa resonansi kuat dari bahasa rupa tradisi Bali, meskipun telah mengalami transformasi dalam praktik seni kontemporer. Lukisan I Gusti Ngurah Udiantara (Tantin) mengolah teknik sigar mangsi menjadi komposisi garis yang lentur dan plastis, menghadirkan abstraksi yang tetap menyimpan resonansi visual tradisi Bali. Garis-garis itu bergerak seperti aliran air yang berkelok, membentuk ritme visual yang puitik. Sementara itu karya I Wayan Sarcita Yasa menghadirkan situasi visual yang berbeda. Lukisannya secara samar mengingatkan pada kepadatan citraan gaya Batuan, dengan permukaan kanvas yang dipenuhi elemen visual dalam rona hitam-putih. Namun di dalam kepadatan itu muncul pula idiom visual yang lebih kontemporer—sebuah sentuhan pop-stream yang menciptakan suasana ganjil dan ambigu, seolah tradisi dan bahasa visual masa kini saling berjumpa dalam ruang yang sama.
Spektrum lain memperlihatkan karya-karya yang menerjemahkan karakter air ke dalam prinsip bentuk visual. Dalam karya Putu Sastra Wibawa, Suanjaya Kencut, dan Tifani Anggun, sifat air yang cair, mengalir, dan berubah menjadi inspirasi bagi konstruksi bentuk yang dinamis. Air tidak hadir sebagai citra literal, melainkan sebagai prinsip gerak dan ritme visual. Lukisan Tjokorda Bagus Wiratmaja juga bergerak dalam wilayah ini. Dalam karyanya, air dipahami sebagai simbol kebebasan yang bergerak tanpa batas. Percikan dan aliran warna menyatu, menyebar, dan bertabrakan secara spontan, menciptakan komposisi yang hidup dan tak terduga. Air tidak lagi tampil sebagai objek yang direpresentasikan, melainkan sebagai bahasa visual yang berbicara tentang keberanian untuk berubah.
Di antara berbagai pendekatan tersebut terdapat pula karya I Made Widya Diputra, yang secara eksplisit merujuk pada kosmologi Bali melalui konsep Panca Maha Bhuta—unsur-unsur dasar pembentuk alam semesta dan tubuh manusia. Dalam kerangka kosmologis ini, air (apah) merupakan salah satu elemen yang menjaga keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara dunia manusia dan tatanan semesta.
Keragaman pendekatan ini menunjukkan bahwa hubungan antara karya dan tema tidak selalu bersifat langsung. Dalam beberapa karya, air muncul sebagai citra yang nyata; dalam karya lain ia hadir sebagai metafor, sebagai prinsip bentuk, atau bahkan sebagai gagasan yang bekerja secara lebih tersirat. Justru di dalam keragaman itulah pameran Ambang Alir menemukan kekuatannya. Tirta tidak dipaksakan menjadi simbol tunggal yang harus diulang oleh setiap seniman, melainkan menjadi medan refleksi yang membuka berbagai kemungkinan eksplorasi artistik.
Seperti air yang mengalir mengikuti kontur permukaan yang dilaluinya, karya-karya dalam pameran ini juga bergerak melalui berbagai jalur—mengikuti imajinasi, pengalaman, dan sensibilitas para senimannya. Di titik inilah persoalan lain mulai muncul: bagaimana berbagai kemungkinan tafsir tersebut kemudian memperoleh maknanya di dalam ruang seni rupa kontemporer—sebuah ruang yang tidak hanya dibentuk oleh karya, tetapi juga oleh konteks presentasi, institusi seni, dan percakapan diskursif yang menyertainya.
Karya, Diskursus, dan Objek yang Kontingen
Keragaman pendekatan yang muncul dalam Ambang Alir memperlihatkan bahwa hubungan antara karya seni dan tema tidak selalu bergerak secara langsung. Dalam beberapa karya, tirta hadir sebagai citra yang nyata; dalam karya lain ia muncul sebagai metafor ekologis, sebagai prinsip visual, atau bahkan hanya sebagai resonansi konseptual yang bekerja dari latar pemikiran senimannya. Situasi ini menunjukkan bahwa karya seni kontemporer tidak selalu beroperasi sebagai representasi yang stabil dari suatu gagasan tertentu. Ia bergerak dalam wilayah yang lebih terbuka—di mana makna dapat bergeser, berkembang, dan terus diproduksi kembali melalui berbagai konteks pembacaan.
Dalam kerangka ini, karya seni kontemporer dapat dipahami sebagai objek yang kontingen. Martha Buskirk, dalam The Contingent Object of Contemporary Art, mengingatkan bahwa karya seni tidak dapat dipahami semata-mata sebagai objek material yang memiliki makna tetap. Ia selalu terkait dengan kondisi presentasi, konteks institusional, serta jaringan diskursus yang menyertainya. Seperti yang ia tulis, makna karya seni sering kali bergantung pada “the circumstances of its presentation and reception” (Buskirk, 2003, hlm. 5). Dengan kata lain, sebuah karya tidak pernah sepenuhnya berdiri sendiri. Ia selalu berada dalam hubungan dengan ruang, institusi, pernyataan seniman, narasi kuratorial, dan percakapan yang membentuk cara kita memahaminya.
Pemahaman ini membantu melihat bagaimana karya-karya dalam Ambang Alir bekerja. Lukisan, patung, atau instalasi yang tampak otonom dalam bentuk visualnya tetap berada dalam medan tafsir yang lebih luas. Judul karya, pilihan tema tirta, ruang pamer, bahkan percakapan yang muncul di sekitar pameran turut membentuk kemungkinan makna yang hadir. Dalam konteks ini, pameran tidak hanya menjadi kumpulan objek, melainkan juga sebuah ruang produksi makna—tempat berbagai sensibilitas visual, ingatan kultural, dan refleksi ekologis bertemu dalam satu pengalaman bersama.
Namun dimensi tersebut tidak hanya bergantung pada karya dan ruang pamer semata. Ia juga berkaitan dengan elemen diskursif yang menyertai praktik seni rupa kontemporer. Diskursus di sini tidak dimaksudkan sebagai penjelasan yang menutup kemungkinan tafsir karya. Sebaliknya, ia membuka ruang percakapan yang memungkinkan pengalaman estetis berkembang menjadi refleksi yang lebih luas. Melalui tulisan, ulasan, diskusi, atau percakapan publik, karya seni dapat memasuki medan pemikiran yang lebih luas—menghubungkan sensibilitas visual dengan pertanyaan-pertanyaan yang melampaui pengalaman estetis itu sendiri.
Dalam konteks pameran Ambang Alir, dimensi diskursif ini menjadi penting karena tema tirta tidak hanya berkaitan dengan simbol spiritual dalam kosmologi Bali, tetapi juga dengan persoalan yang semakin nyata dalam kehidupan modern: perubahan lingkungan, tekanan pembangunan, serta transformasi lanskap ekologis pulau Bali. Karya seni mungkin tidak selalu berbicara secara langsung mengenai persoalan-persoalan tersebut. Namun melalui percakapan yang menyertainya, karya-karya itu dapat membuka ruang refleksi yang memperluas cara kita memandang hubungan antara manusia, alam, dan perubahan yang terus berlangsung.
Karya otonom tentu memiliki kekuatannya sendiri sebagai pengalaman estetis. Ia dapat menyentuh sensibilitas, memicu afeksi, atau menghadirkan pengalaman visual yang tidak selalu mudah dijelaskan melalui bahasa. Namun ketika pengalaman tersebut bertemu dengan percakapan yang berkembang di sekitarnya, makna karya dapat bergema lebih jauh. Sensibilitas artistik tidak hanya berhenti pada pengalaman individual di hadapan karya, tetapi juga menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai dunia yang sedang berubah.
Di titik inilah seni rupa kontemporer memperlihatkan potensinya sebagai medan refleksi. Ia tidak selalu menawarkan jawaban yang pasti terhadap persoalan dunia, tetapi mampu membuka ruang bagi cara melihat yang baru—cara melihat yang lebih peka terhadap hubungan antara bentuk, pengalaman, dan realitas yang mengitarinya. Dan dalam konteks pameran ini, refleksi tersebut akhirnya kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana makna tirta—yang dalam kosmologi Bali menandai kehidupan, keseimbangan, dan keberlanjutan—dibaca ulang di tengah perubahan yang terus berlangsung dalam modernitas Bali hari ini.
Posisi Seniman di Ambang
Dalam sejarah seni rupa Bali, otonomi merupakan salah satu capaian penting dari proses modernitas. Ia membuka kemungkinan bagi seniman untuk berdiri sebagai subjek individual—bukan lagi semata pelaksana fungsi ritual atau penjaga kesinambungan visual tradisi. Sejak masa Pita Maha hingga perkembangan seni rupa kontemporer hari ini, otonomi memberi ruang bagi pilihan personal, bagi eksperimen bentuk, serta bagi kebebasan untuk menafsir ulang dunia yang dihadapi seniman.
Namun otonomi tidak pernah sepenuhnya netral. Ia selalu membawa dua sisi sekaligus: kemungkinan kebebasan, tetapi juga jarak. Ketika seniman memperoleh ruang untuk menentukan arah estetiknya sendiri, hubungan dengan sistem kosmologis yang dahulu menjadi fondasi komunal perlahan berubah. Tradisi tidak lagi hadir sebagai kerangka yang secara langsung mengatur bentuk, melainkan sebagai lapisan ingatan yang bekerja lebih halus di dalam kesadaran kreatif seniman.
Situasi inilah yang dapat kita rasakan dalam pameran Tirta: Ambang Alir. Jejak formal tradisi tidak selalu tampil sebagai tanda yang segera dikenali. Dalam beberapa karya, identitas kultural tidak lagi hadir di permukaan sebagai motif atau simbol yang eksplisit. Tradisi justru bekerja dalam cara yang lebih sunyi—kadang tersirat dalam ritme garis, dalam cara ruang disusun, atau dalam kepekaan terhadap alam yang membentuk pilihan visual para seniman.
Apakah ini kehilangan? Ataukah ini transformasi? Mungkin keduanya sekaligus. Modernitas membuka ruang bagi individu untuk menentukan bentuk dan arah penciptaannya sendiri. Namun pada saat yang sama, ia juga menciptakan jarak dari sistem kosmologis yang dahulu membentuk pengalaman komunal masyarakat Bali. Di dalam ruang jarak itulah para seniman bergerak—tidak sepenuhnya terlepas dari akar, tetapi juga tidak lagi sepenuhnya terikat oleh pakem tradisi yang stabil.
Tradisi tidak lagi semata dihidupi sebagai pakem yang beku, melainkan dipahami sebagai sumber nilai, pengalaman, dan sensibilitas yang dapat ditafsir ulang. Kosmologi Bali—dengan prinsip keseimbangan yang tercermin dalam gagasan seperti Tri Hita Karana—tidak selalu hadir sebagai citra simbolik yang mudah dikenali. Namun kesadaran tentang relasi antara manusia, alam, dan tatanan kosmos tetap bekerja sebagai latar etis yang memengaruhi cara para seniman memandang dunia.
Dalam konteks ini, tirta tidak hanya hadir sebagai simbol spiritual yang diwarisi dari tradisi. Ia juga dapat dibaca sebagai titik refleksi terhadap kondisi Bali hari ini—sebuah pulau yang mengalami perubahan pesat akibat pariwisata, pembangunan, dan tekanan ekologis. Air yang dahulu menjadi lambang keseimbangan kosmologis kini juga menjadi penanda kerentanan ekologis. Di dalam ketegangan itulah sensibilitas para seniman bergerak.
Judul Tirta: Ambang Alir seolah merangkum keadaan tersebut. Ia menunjuk pada posisi yang belum sepenuhnya menetap—sebuah keadaan di antara. Seperti air yang mengalir mengikuti kontur yang dilaluinya, aliran kreativitas para seniman juga bergerak melalui jalur yang berbeda-beda. Kontur itu dibentuk oleh pengalaman hidup, oleh imajinasi, oleh pendidikan artistik, oleh dinamika seni rupa kontemporer, serta oleh kesadaran terhadap perubahan yang terjadi di sekitar mereka.
Karena itu tidak ada satu arah yang ditentukan. Yang tampak justru berbagai kemungkinan respons terhadap lekuk zaman. Dalam setiap karya, aliran menemukan jalurnya sendiri—kadang tenang, kadang berkelok, kadang menyusup melalui celah yang nyaris tak terlihat. Dan mungkin justru dalam keragaman aliran itulah pameran ini menemukan maknanya: sebagai ruang di mana tradisi, modernitas, dan pengalaman personal saling berjumpa—dalam keadaan yang terus bergerak.
Penutup — Aliran yang Belum Selesai
Ambang Alir bukanlah pernyataan tentang batas yang tegas. Ia menunjuk pada keadaan yang masih bergerak—sebuah situasi yang belum sepenuhnya selesai. Dalam keadaan itu, tradisi tidak hilang, tetapi berubah cara hadirnya; modernitas tidak selalu menghapusnya, tetapi perlahan menggeser keseimbangan yang dahulu terasa mapan. Tirta pun tidak berhenti sebagai lambang kesucian semata. Ia sekaligus menjadi cermin bagi perubahan—mengingatkan kita pada krisis yang pelan-pelan muncul, dan pada pertanyaan-pertanyaan yang belum seluruhnya terjawab.
Di antara akar yang diwarisi dan kebebasan yang diperoleh, para seniman Sanggar Dewata Indonesia Yogyakarta bergerak dalam medan pencarian. Tentu mereka tidak dalam posisi memberikan jawaban final, terhadap persoalan air, ataupun terhadap perubahan yang tengah berlangsung di Bali hari ini. Seni otonom memang tidak bekerja sebagai perangkat penyelesaian. Namun justru melalui jarak itulah ia menjaga kesadaran: memelihara kompleksitas, mempertahankan kepekaan, dan membuka kemungkinan percakapan yang melampaui ruang pamer.
Seperti air yang mencari jalannya di antara bebatuan, seni menemukan bentuknya dalam lekuk zaman. Kadang ia mengalir tenang, kadang berbelok, kadang membentur, kadang menyerap dan memantul kembali. Tidak selalu jernih, tidak selalu keruh—tetapi terus bergerak, mengikuti kontur pengalaman manusia yang senantiasa berubah. Dan mungkin di situlah maknanya. Bukan pada kepastian arah, melainkan pada keberanian untuk tetap mengalir—menyusuri ambang perubahan, menjaga ingatan pada sumbernya, sambil membuka kemungkinan bentuk yang baru.
Asmudjo J. Irianto
























