Renaissance of China (?)

Image-empty-state.png

27 November 2021

-

23 Januari 2022

Semarang Contemporary Art Gallery, Jl. Taman Srigunting, Tanjung Mas, Semarang City, Central Java, Indonesia

Renaissance of China (?)

a solo exhibition by

Eddy Susanto


curator:

Eddy Susanto

(self-curated)


25 November 2021 - 23 January 2022


Venue: 

Semarang Gallery

Renaissance of China (?)


Judul dari seri ini pada awalnya terinspirasi oleh artikel “Why China Did Not Have a Renaissance – And Why that Matters” yang ditulis oleh Thomas Maissen and Barbara Mittler 19 Februari 2019 [1]. Renaissance sering dicirikan sebagai zaman tertentu dalam sejarah Eropa dan elemen penting dalam narasi kebangkitan Barat. Gagasan ini di Eropa selalu terhubung dengan gagasan tentang zaman kegelapan dan ketidakjelasan yang mendahuluinya sehingga melahirkan kebutuhan untuk membebaskan diri dari zaman itu dan dari semua implikasinya. Eropa menganggap diri mereka hidup di zaman baru. Namun apakah Renaissance Eropa menawarkan kemungkinan baru untuk penulisan sejarah global?


Di Barat Renaissance dengan huruf besar R memiliki pengertian sebagai sebuah Gerakan. Kata ini memiliki padanan tapi tak serupa dengan kata renascere atau renaissance dengan huruf kecil r – Kebangkitan Kembali. Apakah Gerakan Renaissance di Barat memiliki pengertian yang sama dengan r/Renaissance of China?


Dalam bidang pertanian catatan tertulis paling awal tentang ilmu bercocok tanam Tiongkok, berasal dari periode pra-Qin (sebelum 221 SM). Dari dinasti Han (202 SM–220) hingga dinasti Ming (1368–1644), beberapa buku ensiklopedis ditulis untuk mencatat praktik pertanian masyarakat Tiongkok secara sistematik. Buku-2 tersebut menyebar ke berbagai negara dan memiliki dampak yang besar secara global. Bahkan di akhir abad 19, Charles Darwin dalam bukunya “On the Origin of Species” mengutipnya sebagai sebuah ensiklopedia Tiongkok kuno. Selanjutnya, reformasi dan keterbukaan pada tahun 1978 mendorong pertumbuhan ekonomi dan menghidupkan kembali kemajuan ilmu pengetahuan dan investasi yang membuat Cina kembali menjadi pemimpin dalam ilmu dan produk pertanian [2].


Pengetahuan tentang obat adalah kontribusi Cina secara global yang tidak bisa disangkal. Fakta bahwa obat herbal efektif untuk mengobati penyakit menunjukkan bahwa ada bahan aktif yang efektif yang terkandung dalam tanaman ini. Sebagai contoh, obat herbal yang berasal dari tanaman Artemisia Annua L digunakan untuk mengobati malaria. Pengetahuan ini didokumentasikan dalam Buku Pegangan Resep untuk Keadaan Darurat yang ditulis pada masa Dinasti Jin Timur (317–420 M). Pada tahun 1972, sekelompok ilmuwan Cina, yang dipimpin oleh Tu Youyou, mengisolasi artemisinin dari tanaman ini. Youyou memelopori penggunaan artemisinin sebagai pengobatan malaria, menyelamatkan jutaan nyawa, terutama di negara-negara berkembang. Tu Youyou dianugerahi Hadiah Nobel Kedokteran 2015 [2].


Setelah periode introspeksi yang panjang, biologi dan pertanian Cina sekali lagi membangun keunggulan global. r/Rainaissance of China dalam hal ini memiliki pengertian sebagai sebuah Kebangkitan Kembali atas pengaruh Global masa lalu yang dipresentasikan dalam bentuk yang modern and sesuai jaman.


Ketika Deng Xiaoping mengantarkan era Reformasi yang membuka ruang terbatas bagi praktik keagamaan, berbagai jenis agama tumbuh dan berkembang pesat di seluruh Cina. Tidak hanya mencakup kebangkitan dan penemuan kembali berbagai bentuk tradisional agama Cina, tetapi juga adaptasi kreatif dalam bentuk-bentuk baru. Secara harfiah jutaan kuil dewa lokal telah dibangun atau dibangun kembali dalam 30 tahun terakhir. Peziarah berduyun-duyun ke kuil Buddha dan kuil Tao yang telah direnovasi. Berbagai bentuk agama Kristen telah mengalami pertumbuhan eksplosif. Pada masa pemerintahan Mao Zedong dan Revolusi Kebudayaan (1966–1976), para pemimpin Tionghoa menindas dan melenyapkan segala bentuk praktik keagamaan [3]. Dalam hal Kebudayaan, Religi, dan Tatanan Sosial, pengertian r/Reinnaisance of China adalah Kebangkitan Kembali dalam bentuk adaptasi kreatif atas sejarah panjang berbagai praktik tradisi yang sudah berlangsung berabad-abad di Cina.


Karya Eddy Susanto, mencoba menghadirkan kembali tentang Reinnaissance of China (?) yang telah menjadi bagian telaah banyak penelitian saintifik. Tanda tanya dalam judul seri ini dimaksudkan untuk mempertanyakan kembali baik pemahaman r/Reinnaissance maupun periodisasinya. Robekan maupun kupasan yang dibuat dalam lukisan ini serupa dengan “membedah” kembali pengertian kata r/Reinaissance.


Eddy Susanto melukiskan kembali karya2 yang dibuat oleh pelukis Barat pada era Reinassance Barat abad ke 16. Lukisan tersebut merupakan euforia oksidentalisme, khususnya atas Cina pada waktu itu. Selain mempertanyakan pemahaman e/Reinnaisance of China, karya ini mencoba membangun korelasi dari perspektif imajinatif dengan Babad Kawung “Sejarah Kawitane Wong Jawa Lan Wong Kanung”. Dalam babad semi imaginatif dan tendensius ini digambarkan migrasi Cina melewati Yunan sebelum tiba di Nusa-Kendheng. Basis kisah ini mirip dengan pendapat Robern Barron von Heine Geldern yang mengatakan nenek moyang bangsa Indonesia berasal Yunnan, Cina Selatan [4]. Migrasi tersebut mempengaruhi Kebudayaan and artsitektur Jawa. Karya karya dalam seri ini dilukiskan dengan menggunakan Text dari Babad tersebut.


Jogjakarta, 19 Oktober 2021

Eddy Susanto

(Diedit oleh Andonowati & Brenny van Groesen)


[1] “Why China Did Not Have a Renaissance – And Why that Matters”, Thomas Maissen and Barbara Mittler trafo.hypotheses.org/17946.

[2] A Chinese renaissance. Nature Plants 3, 17006 (2017). doi.org/10.1038/nplants.2017.6

[3] Religious Renaissance in China Today, Richard Madsen, First Published June 1, 2011, Research Article, doi.org/10.1177/186810261104000202

[4] nusantarareview.com/cerita-imajinatif-itu-bernama-babad-kanung.html



Renaissance of China (?)


The title of this series was originally inspired by the article “Why China Did Not Have a Renaissance – And Why that Matters” written by Thomas Maissen and Barbara Mittler, February 19, 2019 [1]. The Renaissance is often characterized as a particular epoch in European history and an important element in Western revival narratives. This idea in Europe was always connected to the idea of ​​the dark ages and the obscurity that preceded it, giving rise to the need to free oneself from that age and from all its implications. Europeans consider themselves to be living in a new age. But did the European Renaissance offer new possibilities for global history rewriting?


In the West, the Renaissance with a capitalized R denotes a Movement. This word has a dissimilar match with the word “renascere” or renaissance with a lowercase r - Resurrection. Does the Renaissance Movement in the West have the same meaning as the r/Renaissance of China?


In agriculture the earliest written records of Chinese cultivation date back to the pre-Qin period (before 221 BC). From the Han dynasty (202 BC–220) to the Ming dynasty (1368–1644), several encyclopedic books were written to systematically record Chinese agricultural practices. These books spread to various countries and had great global impacts. Even in the late 19th century, Charles Darwin in his book “On the Origin of Species” cited the ancient Chinese encyclopedia. Further, Reforms and opening up in 1978 boosted economic growth and revived scientific progress and investment, making China again a leader in agricultural science and products [2].


Knowledge of medicine is the undeniable contribution of China globally. The fact that herbal remedies are effective for treating ailments shows that there are active ingredients contained in these plants. For example, herbal medicine derived from the plant Artemisia Annua L is used to treat malaria. This knowledge is documented in the Handbook of Prescriptions for Emergencies written during the Eastern Jin Dynasty (317–420 AD). In 1972, a group of Chinese scientists, led by Tu Youyou, isolated artemisinin from this plant. Youyou pioneered the use of artemisinin as a malaria treatment, saving millions of lives, especially in developing countries. Tu Youyou was awarded the 2015 Nobel Prize in Medicine [2].


After a long period of introspection, Chinese biology and agriculture have once again established a global advantage. r/Renaissance of China in this case has an understanding as a Re-awakening of past global influences which is presented in a modern and contemporary form.


When Deng Xiaoping opened up limited space for religious practice, various types of religions grew and flourished throughout China. It includes not only the revival and rediscovery of various traditional forms of Chinese religion but also creative adaptation in new forms. Literally, millions of temples have been built or rebuilt in the last 30 years. Pilgrims flock to the renovated Buddhist and Taoist temples. The various forms of Christianity have experienced explosive growth. During the reign of Mao Zedong and the Cultural Revolution (1966–1976), Chinese leaders suppressed and eliminated all forms of religious practice [3]. In terms of Culture, Religion, and Social Order, the notion of r/Renaissance of China is Re-awakening in the form of creative adaptation of the long history of various traditional practices that have lasted for centuries in China.


The works of Eddy Susanto illustrate the r/Renaissance of China which has become a topic of many scientific studies. The question mark in the title of this series is intended to question both the understanding of r/Renaissance and its periodization. The tears and peels made in these paintings are like "dissecting" the meaning of the word r/Renaissance.

Eddy Susanto repainted the works made by Western painters in the era of the Western Renaissance of the 16th century. The paintings were a euphoria of accidentalism, especially for China at that time. In addition to questioning the understanding of r/Renaissance of China, this work tries to build a correlation with “Babad Kawung”, the "History of the Origin of Javanese and Chinese (in Indonesia)". This semi-imaginative and tendentious chronicle describe the Chinese migration through Yunan before arriving at Nusa-Kendheng. The basis of this story is similar to the opinion of Robern Barron von Heine Geldern that the ancestors of the Indonesian people came from Yunnan, South China [4], from which Javanese culture and architecture were influenced by the Chinese one. The works in this series are depicted using the Text from the Babad Kawung.

Jogjakarta, 19 October 2021

Eddy Susanto

(Edited by Andonowati & Brenny van Groesen)

[1] “Why China Did Not Have a Renaissance – And Why that Matters”, Thomas Maissen and Barbara Mittler trafo.hypotheses.org/17946.

[2] A Chinese renaissance. Nature Plants 3, 17006 (2017). doi.org/10.1038/nplants.2017.6

[3] Religious Renaissance in China Today, Richard Madsen, First Published June 1, 2011, Research Article, doi.org/10.1177/186810261104000202

[4] nusantarareview.com/cerita-imajinatif-itu-bernama-babad-kanung.html