KUNE KUNE

Image-empty-state.png

3 Desember 2022

-

5 Februari 2023

Semarang Contemporary Art Gallery, Jalan Taman Srigunting, Tanjung Mas, Semarang City, Central Java, Indonesia

Kune Kune

/Lika Liku


KANOKO TAKAYA

Solo Show


meliuk, melengkung, berkelok dan dinamis adalah fitur utama karya Kanoko

Melalui bentuk, garis, kontur, tekstur dan warna — Hadir bersama di atas bidang

Kadang Ia membentuk lengkungan ; kadang meliuk

hadir dalam garis yang realis..kadang lenyap dalam tumpukan warna.

Kelak kelok hadir berulang menjadi pola yang teratur yang magis dan dinamis.



Kune Kune

Lika Liku



Delapan tahun tinggal dan berkarya di Indonesia bagi Kanoko Takaya membawanya menemukan Kune Kune [LIKA LIKU] yang tersaji di tengah Semarang Gallery saat ini. Perupa asal Kyoto, Jepang ini memiliki ketertarikan dan kekaguman yang besar dengan realisme magis kebudayaan visual di Indonesia. Topeng, batik, dan produk kebudayaan visual lain yang erat dengan seni tradisi dan juga visual jalanan yang sangat sehari-sehari.


Dinamika adalah hal yang tidak dapat dilepaskan dalam proses Kanoko untuk mengolah pengalaman individu dalam relasinya dengan wawasan nusantara, khasanah visual dan nilai-nilai budaya selama di Indonesia. Keberhasilan seorang gaikokujin untuk menjadi bagian dari masyarakat kebudayaan dan menyajikannya dalam tutur visual yang kiwari.


Dalam delapan tahun ini, Kanoko telah menghasilkan ratusan ilustrasi, lukisan, drawing dan instalasi dalam berbagai material. Melalui kronik kekaryaan Kanoko ini, kami menghadirkan sebagian dari Inner Series dan Indonesian series yang terpilih. Serial terbaru yang dikerjakan Kanoko dalam eksplorasi artistik dengan material seni yang beragam. Garis-garis tersaji menjadi lekukan bertumpuk, dengan penyajian tekstur, sapuan warna atmosferik Ia menghadirkan liuk tubuh-tubuh. Tubuh-tubuh yang menjadi refleksi atas identitas dan tubuh sebagai perantara untuk mengakses bentuk-bentuk relasi kultural dengan alam, budaya, bahasa, sosial termasuk kekuasaan dan politik.


Perjalanan delapan tahun menatap kanvas, kertas, kain, patung hingga sekarang Ia menghadirkan Movement Series. Sebuah perayaan atas tubuh-tubuh yang memiliki pengalaman untuk bertumbuh dalam berbagai transisi bahkan reposisi setiap harinya. Ekspektasi tubuh atas nilai ideal yang kadang meniadakan eksistensinya struktur tulang. Seperti bentuk atas tubuh dapat dinamis bertransformasi secara lentur.


Sejauh manakah kita memahami tubuh jasmani dan peran tubuh, di dalam diri? Pertanyaan ini juga coba didefinisikan dan hadir dalam praktik seni rupa secara global. Hadir dan terepresentasi dalam karya-karya; baik dari era klasik hingga kontemporer. Tubuh adalah representasi dari nilai. Tubuh menjadi perantara sosial, kultural bahkan spiritual dalam mengakses pengalaman diluar dirinya. Tubuh juga menjadi pusat dari identitas diri yang mendefinisikan pembeda gender, ras, etnis dan masih banyak lagi. Tubuh adalah media untuk mengekspresikan pesan dari lingkungan sosialnya. Seperti ekspresi tubuh yang gembira, tubuh yang statik atau tubuh terhubung dengan alam bawah sadar kita selama ini.


Serial karya terbaru Kanoko — Inner Series & Movement Series menyajikan pose atas tubuh dan transformasinya dalam lekukan garis yang dinamis; terus bergerak. Garis hadir menjadi bentuk, tekstur, warna dan sensasi. Seperti halnya tajuk-tajuk karya yang dipilihnya. Hadir menjadi definisi atas sensasi inderawi yang berkembang dalam lika-liku “Kune Kune” tubuh yang bergerak, postur yang tidak terduga, gestur yang menyajikan ekspresi emosi yang sederhana, hangat namun dinamis. Selayaknya metafora atas penggambaran tubuh diantara berbagai situasi serta perubahan sosial bahkan tantangan ekologi yang terus menerus di hari-hari ini — Tubuh baru yang senantiasa dinamis dalam perubahan.


Kanoko Takaya — seorang seniman muda asal Kyoto, Jepang yang sudah berinteraksi dengan kebudayaan Indonesia selama delapan tahun terakhir ini. Jika mundur sebelumnya, Kanoko kecil telah merekam memorinya dengan Indonesia semenjak masa kanak-kanak ketika berkunjung ke Ubud, Bali bersama ibunya. Seseorang datang yang menyukai gambarnya.


Selepas studi dari Kyoto Seika, Kanoko datang kembali dengan kehendak untuk menyelami kebudayaan Indonesia dengan menempuh studi bahasa Indonesia. Saat menjalani pendidikan tersebut, Kanoko dengan tekun mempelajari budaya yang ada di Indonesia, seperti teknik dan motif batik — Juga topeng. Pengalaman ini membawanya akhirnya mendesain batik-batik label Pithecanthropus.


Keputusan Kanoko untuk berkarya di Indonesia diibaratkan seperti seorang individu yang dilahirkan kembali ke dalam masyarakat dan kebudayaan baru. Dari situasi sosial dan kebudayaan yang sebelumnya dipahaminya. Proses untuk beradaptasi dan men masyarakat dan kebudayaan yang eksotik.


Tanpa melupakan bahwa secara historis, Indonesia dan Jepang berbagi memori. Khususnya di masa sebelum kemerdekaan. Dan memori sejarah ini mewariskan sebuah takdir pula bagi publikInternasional untuk mengunjungi keelokan alam, budaya, tari, lukisan, dan warisan seni lainnya.



Indonesian Series

Periode awal berkarya Kanoko di Indonesia juga sekaligus periode perjumpaan Kanoko dengan kebudayaan di Indonesia. Transisi dari budaya urban di Kyoto dihadapkan dengan kehidupan yang sederhana di Solo. Meskipun secara historis, Indonesia dan Jepang berbagi memori sejarah yang cukup panjang. Khususnya di masa sebelum kemerdekaan. Dan memori sejarah ini mewariskan sebuah jalur kebudayan yang terus menerus diziarahi. Seperti mengunjungi keelokan alam, budaya, tari, lukisan, dan warisan seni lainnya.


Dalam serial ini Kanoko seolah ingin mengajak bertukar pengalaman dari tatapan seorang gaikokujin yang terprovokasi budaya yang dilihatnya dari dekat selama hari-harinya di Solo dan Bali. Ilustrasi yang menggambarkan pasar, warung makan, pangkas rambut, motif batik, dan interaksi budaya lainnya. Dalam karya-karya Indonesian Series ini Kanoko dengan cermat menangkap tema-tema arsitektur, kuliner, kegiatan adat dan sosial, lingkungan, figur manusia, hingga ekspresi budaya dalam patung, topeng yang dideformasi ke dalam bentuk yang lebih jenaka. Yang disajikannya secara ilustratif dan figuratif. Penyajian komposisi yang menggambarkan keriuhan suasana sosial masyarakat di Indonesia. Karya-karya yang menampilkan citraan eksotik secara eklektik.


Hal yang menarik di serial ini adalah cara Kanoko menyajikan ekspresi figur. Ia menampilkannya dengan jenaka, polos dan sederhana. Sehingga keriuhan yang frontal dapat tersaji ulang dalam tutur kisah yang hangat, bersahabat dan jenaka.



Inner Series

Transisi Kanoko selama tinggal dan berkarya di Indonesia telah tersaji dalam banyak ragam karya. Transformasi Kanoko dari menyajikan garis dan warna mulai mengalami pola baru di periode ini.


Secara gagasan visual dan narasi — Karya Kanoko dalam serial ini jauh dari keriuhan sebelumnya. Karya-karya yang dikerjakan Kanoko menyajikan tubuh dan anatomi dalam berbagai material. Ia menghadirkan imaji tubuh dalam garis bentuk dan warna yang disajikan dalam komposisi warna yang eklektik dan atmosferi. Seperti halnya paradokstubuh pikiran dan tubuh rasa yang berada di dalam tiap manusia. Beberapa Karya pada serial ini memiliki kontur yang menyerupai relief dengan menampilkan berbagai gestur dan pose tubuh manusia.


Inner series merupakan hasil stilasi bentuk manusia yang tersaji dalam garis yang lebih sederhana. Bertumpu pada atmosfer persona yang dihadirkan dalam tekstur dan pose-pose absurd yang berulang dan bertumpuk. Penyajian objek baru darinya menjadi berulang dan dinamis.



Impresi pencitraan kekaryaan Kanoko cukup dekat dengan tradisi-tradisi lokal Indonesia, seperti batik, topeng, totem, ogoh-ogoh, ondel-ondel. Pada karya Ulu Ulu dan Kankan — figur yang tampak di karyanya mendekati memori kultural seperti sosok yang bertubuh besar, absurd-imajinatif dan ekstensif secara skala. Penggarapan karya-karya serial ini sangat dekat dengan gestur-postur tubuh primitif, seolah bertulang lunak dan hadir tanpa gender. Kanoko menempatkan tubuh dalam satu kesamaan yang paradoks antara kelembutan dan kelenturan dengan keliaran dan kekokohan binatang. Subjek yang disajikan pada karyanya ini kerap kali menghadirkan nuansa keintiman dan kekaguman irasional.



Movement Series

Seperti halnya karya-karya Kanoko Takaya dalam dua series sebelumnya: Indonesian Series dan Inner Series. Karya-karya tersebut membentuk identitas baru yang membawanya mencapai Movement Series: yang dapat dimaknai sebuah perayaan atas tubuh-tubuh yang memiliki pengalaman untuk bertumbuh dalam berbagai transisi bahkan reposisi setiap harinya.


Karya-karya yang terpilih ini telah mengingatkan saya pada beberapa karya seniman-seniman terdahulu. Kecenderungan Kanako Takaya secara penggunaan material karya mengingatkan pada karya perupa Indonesia, I Made Wiguna Valasara yang juga memiliki ketertarikan pada realisme sosial masyarakat tradisi, ritual, upacara adat sebagai konstruksi kehidupan masyarakat Bali yang ditampilkan dalam mempertanyakan kembali nilai-nilai kultural di dalam konteks sosial saat ini.


Peralihan kultural yang dialami oleh Kanoko juga mengingatkan saya terhadap karya Franziska Fennert, seniman kelahiran Jerman yang saat ini menetap di Yogyakarta. Keduanya memotret isu terkait humanisme, seperti halnya warna kulit, rasialisme —yang barangkali hal itu dialami mereka secara personal sebagai entitas sosial yang dianggap asing, serta isu-isu gender dan lingkungan kerap kali tercermin dalam karya-karya mereka.


Gagasan atas tubuh yang dipresentasikan oleh Kanoko Takaya merupakan topik yang penting. Tercatat bahwa beberapa lukisan paling awal yang ditemukan arkeolog yang menggambarkan seekor babi kutil Sulawesi (sus celebensis) dengan cetakan dua tangan di atas punggungnya. Lukisan ini terbuat dengan pigmen oker merah tua pada dinding goa Leang Tedongnge di kawasan karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan dan diyakini berusia lebih dari 45.500 tahun. Ribuan tahun kemudian, patung Ain Sakhri —diyakini dibuat 11.000 tahun lalu di Betlehem Israel, menggambarkan tubuh sepasang kekasih saling berpelukan. Dan sejumlah patung-patung manusia lainnya yang ditemukan di Siprus Kuno yang diyakini dibuat 3900-2550 SM.


Pada era Yunani klasik, perayaan tubuh manusia yang diidealkan —namun fana— juga muncul melalui karya-karya pematung yang menangkap tubuh yang terlibat dalam kegiatan atletik. Keterampilan ini kemudian dilanjutkan pada era Romawi, yang menggambarkan keindahan tubuh yang terpilih menjadi semacam ‘standar’ yang dicita-citakan seniman selama Renaissance dan seterusnya.


Demikian juga dengan era seni modern dan seterusnya, tubuh tetap menjadi pilihan subjek sentral dalam perkembangan seni kontemporer dunia. Tidak hanya dalam seni rupa — termasuk seni pertunjukan, musik dan banyak praktik lainnya, tubuh menjadi medium perantara yang paling dekat untuk mengakses berbagai relasi dengan alam, bahasa, budaya, dan nilai-nilai sosial, termasuk kekuasaan dan politik. Kalau sebelumnya tubuh digunakan sebagai subjek yang merepresentasikan keindahan dalam lapisan kulit sebagai bidang utama visual, kini hadir menjadi fokus pemikiran kritis terhadap berbagai isu identitas, gender, ras, seksualitas dan etnik.


Pada 1964 seniman asal Jepang Yoko Ono yang menggunakan tubuh dalam karya “Cut Piece” dipertunjukkan pertama kali di Tokyo, Jepang, kemudian London, dan Amerika Serikat. Dalam karyanya Yoko menggunakan tubuh sebagai medium saat membicarakan protes terhadap perang, khususnya bom atom di Hiroshima. Dalam karyanya ini, Yoko bermaksud mengajak penontonnya untuk berinteraksi secara intim dalam gagasan kegelisahan seorang seniman melihat fenomena peperangan yang terjadi di banyak tempat di dunia saat periode tersebut.


Begitu juga dengan seniman Sarah Lucas dalam karyanya “Bunny Gets Snookered” (1997). Ia menyajikan figur anatomi yang tipis terbuat dari celana nilon yang ketat yang diisi dengan gumpalan kapas dan dijepit pada kursi menyerupai sosok panjang tanpa kepala dengan wajah yang jelas, gestur tubuh lentur dan gemulai. Karya instalasinya ini menuntun dengan kuat fantasi 'gadis kelinci' yang glamor dan pasif. Karya ini merepresentasikan kritik terhadap pandangan feminitas yang dianggap hina dan lemah di tengah arena keahlian maskulinitas pria.


Seperti halnya yang muncul pada seniman perempuan Indonesia kenamaan, I Gak Murniasih (1966-2006) yang konsisten menarasikan persoalan tubuh dalam karya-karya lukisnya sebagai gagasan koreksi seniman pada posisi dan peran perempuan di hadapan budaya patriarkis Indonesia. Sama halnya dengan Arahmaiani, yang secara jelas dan tegas menggunakan dirinya sebagai potret gagasan yang ingin disampaikan terhadap persoalan lingkungan dan kritik terhadap rezim politik yang korup.


Modus ketubuhan juga hadir dalam representasi yang kuat dalam pengalaman kultural Kanoko. Inner Series dan Movement series merupakan serial karya terkini yang dihadirkan Kanoko Takaya melalui bentuk garis yang berkelok dan penuh lekukan-lekukan. Kanoko menyederhanakan figur-figur yang sebelumnya sangat jelas bertutur dalam narasi visual menjadi garis lengkung dari lekuk tubuh dan menjadikannya sebuah daya pikat yang magis terhadap tatapan budaya sekitarnya. Dan tersaji bersama di pameran ini menjadi sebuah wahana menjelajahi pengalaman lika liku tubuh dan pengalamannya yang tentu saja selalu berbeda, unik dan dinamis bagi setiap audiens yang hadir kedalam presentasi pameran ini. Selamat kepada Kanoko Takaya untuk proses berliku yang terwujud di dalam pameran ini.



Tabik,

Ignatia Nilu


--------------------------------------------------------------------------------------------------


Kune Kune

Twist and Turn



Eight years of living and working in Indonesia for Kanoko Takaya led her to find Kune Kune [TWIST AND TURN] which is presented in the middle of Semarang Gallery today. Being born in Kyoto, Japan, she develop a great interest and admiration for the magical realism of visual culture in Indonesia. Masks, batik, and other visual cultural products are closely related to traditional art and also everyday street visuals.


Dynamics is something that cannot be separated from Kanoko’s process of processing individual experiences in relation to the archipelago’s insights, visual treasures, and cultural values while in Indonesia. The accomplishment of a gaikokujinin becoming part of a cultural community and presenting it in contemporary visual speech.


Kanoko has produced hundreds of illustrations, paintings, drawings, and installations in various materials. In this chronicle of Kanoko’s work, we present some of the selected Inner Series and Indonesian Series. The latest series that Kanoko is working on is an artistic exploration with diverse art materials. The lines render in a stacked indentation with the presentation of textures, and atmospheric color strokes. She presents contortions of bodies. Bodies that reflect identity and bodies as intermediaries to access forms of cultural relations with the nature, culture, language, social, including power and politics.


Her journey in looking at the canvas, paper, cloth, and sculpture until now, she currently presents the Movement Series. A celebration of bodies that have the experience of growing in various transitions and even repositioning every day. The body’s expectations of ideal values sometimes negate the existence of bone structure. Such as the shape of the upper body can be dynamically transformed in a flexible manner.


How far do we understand the physical body and the role of the body, in ourselves? This question is also trying to be defined and present in art practice globally. Present and represented in works; from the classical to the contemporary era. The body is a representation of values. The body becomes a social, cultural, and even spiritual intermediary in accessing experiences outside of itself. The body is also the center of self-identity that defines gender, race, ethnicity, and many more. The body is a medium for expressing messages from its social environment. As an illustration such as expressing the happy body, the static body or how the body is connected to our subconscious all along.


Kanoko’s latest work series - Inner Series & Movement Series presents the poses of the body and its transformation in dynamic curves; keep on moving. Lines are represented as shapes, textures, colors, and sensations. As well as the titles of the works she chooses. Present as the definition of sensory sensations that develop in the twists and turns of “Kune Kune” moving bodies, unexpected postures, and gestures that present simple, warm but dynamic emotional expressions. It’s like a metaphor for describing the body between various situations and social changes and even the ongoing ecological challenges these days -a new body that is always dynamic in change.


Kanoko Takaya – a young artist from Kyoto, Japan has been interacting with Indonesian culture for a long time. Looking back little Kanoko has recorded her memories of Indonesia since her childhood visit at Ubud, Bali with her mother.


After studying at Kyoto Seika, Kanoko returned with the desire to explore Indonesian culture by studying Indonesian. While undergoing this education, Kanoko diligently studied Indonesian culture, such as batik techniques and motifs – as well as masks. This experience led her to finally design Pithecanthropus batik label.

Kanoko’s decision to work in Indonesia is likened to an individual being reborn into a new society and culture. From the social and cultural situation that she previously understood. The process of adapting to exotic societies and cultures.



Indonesian Series

The early period of Kanoko’s work in Indonesia was also her encounter with the culture in Indonesia. The transition from the urban culture in Kyoto is faced with a simple life in Solo. Although historically Indonesia and Japan share quite a long historical memory. Especially in the pre-independence period. And this historical memory bequeaths a cultural path thatis continuously visited. Such as visiting the beauty of nature, culture, dance, paintings, and other artistic heritage.


In this series, Kanoko seems to want to invite an exchange of experiences from the gaze of a culturally provoked gaikokujin that she saw up close during her days in Solo and Bali. Illustrations depicting markets, food stalls, barbershops, batik motifs, and other cultural interactions. In these Indonesian Series works, Kanoko carefully captures themes from architecture, culinary, traditional and social activities, the environment, and human figures, to cultural expressions in statues, and masks that are deformed into more humorous forms. Which is presented illustratively and figuratively. Presentation of a composition that describes the hectic social atmosphere of society in Indonesia. Works that eclectically display exotic imagery.


The interesting thing in this series is the way Kanoko presents the expression of the figures. She displays it witty, plain, and simple. So that frontal hubbub can be presented again in a story that is warm, friendly, and witty.



Inner Series

Kanoko’s transition during her stay and work in Indonesia has been presented in a wide variety of works. The transformation of Kanoko from presenting lines and colors began to experience new patterns in this period.


In terms of visual and narrative ideas – Kanoko’s work in this series is far from the fanfare before it. Kanoko’s works present the body and anatomy in various materials. She presents images of the body in lines of shapes and colors presented in an eclectic and atmospheric color composition. Like the paradox of the body of mind and feeling residing in every human being. Some of the works in this series have relief-like contours showing various gestures and poses of the human body.



The Inner Series is the stylized result of the human form presented in simpler lines. Relies on the persona atmosphere that is presented in textures and absurd poses that are repeated and stacked. The rendering of new objects from it becomes iterative and dynamic.

The imagery impression of Kanoko’s work is quite close to local Indonesian traditions, such as batik, masks, totems, ogoh-ogoh, ondel-ondel. In the works of Ulu Ulu and Kankan - the figures that appear in her works are as close to cultural memory as figures who are large in stature, absurd-imaginative and extensive in scale. The cultivation of these serial works is very close to primitive body postures as if the bones are soft and exist without gender. Kanoko put the body in a paradoxical resemblance between softness and suppleness with the wildness and toughness of the beast. The subjects presented in her works often present nuances of intimacy and irrational awe.



Movement Series

Similar to Kanoko Takaya’s works in the two previous series: Indonesian Series and Inner Series. These works form a new identity that brings her to the Movement Series: which can be interpreted as a celebration of bodies that have experienced growing in various transitions and even repositioning every day.


The selected works have reminded me of several works by previous artists. Kanoko Takaya’s tendency to use material is reminiscent of the works of the Indonesian artist, I Made Wiguna Valasara, who also has an interest in social realism of traditional societies, rituals, and traditional ceremonies as the construction of Balinese life which is shown in questioning cultural values in today’s social context.

The cultural transition experienced by Kanoko also reminds me of the work of Franziska Fennert, a German-born artist currently based in Yogyakarta. Both artists pictured issues related to humanism such as skin color, racism – which they may experience personally as a social entity that is considered foreign, along with gender and environmental issues that are often reflected in their works.


The idea of the body presented by Kanoko Takaya is an important topic. It is recorded that some of the earliest paintings found by archaeologists depict a Sulawesi warty pig (sus celebensis) with two arms imprinted over its back. This painting is made with dark red ocher pigment on the wall of the Leang Tedongnge cave in the Maros - Pangkep karst area, South Sulawesi and is believed to be more than 45,500 years old. Thousands of years later, the statue of Ain Sakhri – believed to have been made 11,000 years ago in Bethlehem Israel, depicts the bodies of two lovers embracing each other. And a number of other human statues found in Ancient Cyprus are believed to have been made 3900 - 2550 BC.


Back in the classical Greek era, the celebration of the idealized – yet mortal – the human body also appeared through the works of sculptors who captures the body engaged in athletic activities. This skill was then continued in the Roman era, depicting the beauty of the chosen body became a sort of ‘standard’ that artists aspired to during the Renaissance and beyond.


Likewise in the modern art era and beyond, the body remains the central subject of choice in the development of world contemporary art. Not only in fine arts – including performing arts, music, and many other practices, but the body is also the closest intermediary medium for accessing various relations with nature, language, culture, and social values, including power and politics. If previously the body was used as a subject that represented beauty in layers of skin as the main visual area, now it has become a locus for critical thinking on various issues of identity, gender, race, sexuality, and ethnicity.


In 1964 the Japanese artist Yoko Ono’s use of the body in her work “Cut Piece” was shown for the first time in Tokyo, Japan then London and the United States. In her work, Yoko uses the body as a medium when discussing protests against war, especially the atomic bombing of Hiroshima. Through this body of work, Yoko intends to invite the audience to interact intimately with the idea of an artist’s anxiety seeing the phenomenon of war that occurred in many places in the world during that period.


Likewise the artist Sarah Lucas in her work “Bunny Gerts Snooked” (1997). She presents a thin anatomical figure made of tight nylon trousers filled with cotton wading and clamped to a chair resembling a long, headless figure with a well-defined face, lithe and graceful gestures. Her installation work strongly guides the glamorous and passive fantasy of a ‘bunny girl’. This work represents a critique of views of femininity which are considered contemptible and weak in the arena of male masculinity skills.


Such is the case with the prolific Indonesian female artist, I Gak Murniasih (1996 - 2006), who consistently narrated the issue of the body in her paintings as an artist’s idea of correcting the position and role of women in the face of Indonesia’s patriarchal culture. It’s the same with Arahmaiani, who clearly and decisively uses herself as a portrait of the ideas she wants to convey about environmental issues and critiques of a corrupt political regime.


The modus of the body is also present in strong representations in Kanoko’s cultural experience. Inner Series and Movement Series are Kanoko Takaya’s latest works in the form of lines that are winding and full of curves. Kanoko simplifies figures that were previously very clearly spoken in visual narratives into curved lines of body curves and makes them a magical allure to the surrounding cultural gaze. And being presented together at this exhibition is a vehicle to explore the twists and turns of the body, its experiences which of course are always different, unique, and dynamic for every audience present at the presentation of this exhibition. Congratulations to Kanoko Takaya for the twist and turn process embodies in this exhibition.



Adieu,

Ignatia Nilu