Avatara

7 Februari 2026
-
5 April 2026
Ranuza, Gondangdia, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia
AVATARA
Saat memandang karya-karya yang menggantung di dinding kita akan melihat lapisan keindahan yang tak biasa, ada harmoni yang terasa agak aneh dan ketakjuban yang hadir bersamaan. Karya-karya ini bukanlah kesimpulan dari pikiran dan pengalaman senimannya, melainkan pengalaman mereka sendiri. Avatar dari peristiwa yang masih terus berjalan bersama mereka. Bagian dari identitas yang dibangun dari paduan diri mereka dengan nilai sosial yang mengungkung.
Karya-karya ini tidak dibuat untuk mata, tapi untuk menyentuh hati, menggugah rasa yang sering kali dikelabui pandangan sambil menyelipkan pertanyaan “Apa yang ada di balik ini semua?”.
Dengan tampilan karya yang sederhana bahkan terlihat tidak ingin menjadi istimewa, seniman-seniman seolah ini mengajak kita untuk lebih jauh mengenali pengalaman hidup, lalu menjalani tiap bagiannya dengan berani, tanpa perlu menjadi heroik.
Ajakan sederhana untuk menjadikan seni sebagai jalan memahami diri; sebagai seniman, sebagai manusia yang mampu menempatkan dirinya di antara kumpulan manusia lain, dalam berbagai keadaan.
AVATAR PERISTIWA
Pada sebuah bangunan bertingkat di jantung Jakarta, sederet karya seni tampil dengan bersahaja. Terpampang rapi pada dinding putih, tampak tenang namun menyimpan emosi tertahan yang menarik untuk dicermati.
Karya-karya itu adalah buah tangan empat seniman dari generasi berbeda, yang berkisah tentang pengalamannya melalui gubahan karya seni. Karyakarya itu hadir dengan lapisan keindahan yang tak biasa, namun mudah dikenali. Dengan harmoni yang terasa sedikit aneh, ada sedikit ketakjuban dan rasa penasaran hadir bersamaan ketika mellihatnya.
Tampak benang-benang yang dirajut dengan kesabaran, lapisan cat yang ditorehkan dengan tegas ke atas bidang putih, ada garis-garis ditarik perlahan saling silang membentuk bidang, dan sekumpulan warna yang dirangkai dengan hati-hati. Semua hadir bertautan menjadi jalinan kalimat-kalimat tanpa kata, meyodorkan makna yang tak bisa langsung dipahami.
Semua yang ditampilkan dalam ruangan itu memiliki keunikannya sendiri, yang hanya bisa dipahami dengan menyelami pengalaman hidup si seniman. Yang memandang manusia, perempuan, dan bunga bukan cuma sebagai tubuh dan benda - melainkan medan peristiwa yang tak pernah sepi dan tak akan habis digali.
Dan melalui karya-karya yang hadir dalam ruangan persegi panjang dengan dinding yang disirami pendaran lampu sorot, empat seniman itu berkisah tentang hidup dan pandangan mereka - melalui garis dan warna mereka bercerita tanpa suara.
Catatan Pengalaman
Sebentuk ledakan cahaya di bagian wajah pada karya Tusita Mangalani seolah meneriakkan amarah sekaligus kegembiraan. Sosok perempuan yang nyaris larut dalam latar, warna, garis, dan bentuk yang tersusun dengan perhitungan dan dikerjakan hati-hati menyiratkan kerapuhan sekaligus penolakan pada nilai-nilai lingkungan yang mengekang. Mahkota duri di atas kepala adalah takdir yang harus diterima, dicintai, dan digenggam erat sebagai bagian dari perjalanan hidup, meski menyebabkan luka. Sosok manusia dalam lukisannya secara cynical mengajak pelihatnya untuk menikmati hidup yang menjengkelkan dengan senyum.
Lapisan cat yang berpadu dengan manik-manik berwarna-warni menghadirkan kontras yang unik. Seolah hendak keluar dari ruang yang membatasi namun tetap menahan diri untuk tetap berada dalam batasan aman. Senyuman lembut pada bibir sosok perempuan yang terlihat rapuh menyimpan penerimaan yang sinis pada nilai-nilai yang dianggap tidak sesuai namun harus diterima, sebab pengalaman mengajarkan bahwa melawan tak selalu jadi pilihan terbaik.
Guratan cat dan tanah yang menghadirkan wujud menyerupai tubuh perempuan dalam karya Mutiara Riswari merangkul rangkaian peristiwa yang berulang kali mendera. Cat bercampur tanah yang diterakan dengan tegas pada kanvas menyimpan semangat bertahan, berjuang, dan pencarian makna yang bercampur dengan kesadaran tentang kerentanan, kerapuhan, serta penerimaan yang ikhlas pada suratan takdir.
Pada karya Mutiara kita bisa melihat tubuh perempuan sebagai ruang rasa, bukan bentuk tubuh semata apalagi bentuk yang ideal. Sapuan kuas yang ditorehkan dengan kasar memberi kesan beban batin, emosi dan ingatan pribadi yang tak terucap. Warna biru gelap yang berhadapan dengan warna hangat pada wujud serupa tubuh pada salah satu lukisannya, menciptakan kesan sunyi dan dalam. Menyiratkan pengalaman batin yang mungkin tak akan pernah dipahami orang lain.
Sementara pada karya-karya Dwipuspita dan Faelerie kumpulan garis tampak saling silang membentuk cerita samar. Garis-garis yang ditorehkan hati-hati pada lukisan Dwipuspita secara halus memaksa mata pelihat untuk mengamati pelan-pelan keteraturan dan kesabaran si seniman saat berhadapan dengan kanvasnya.
Di atas kanvas Dwipuspita, penonton disuguhi kesabaran dan konsentrasi yang mungkin membuat takjub. Lapisan demi lapisan cat air yang dipulas dan ditorehkan dengan hati-hati ke atas kanvas merekam emosi yang ditahan sekuat tenaga. Keteraturan yang tampak pada helai demi helai daun dan kelopak bunga yang dilukisnya, menyimpan tumpukan emosi yang terlontar pelan-pelan.
Lukisan-lukisan Dwipuspita membungkus pengalaman emosional yang dalam. Setiap tarikan garisnya adalah ucapan tanpa suara. Catatan emosi yang terus berubah seiring derap waktu dalam upaya memahami kehidupan yang berjalan menuju akhir.
Helai demi helai benang yang dijalin bersilangan pada karya Faeleri menghadirkan benda yang tampak sederhana tetapi terasa rumit. Lembut dan ramah dengan warna merah mudanya namun membisikkan kengerian tanpa suara dari fantasi manusia tentang kebaikan.
Jalinan benang membentuk susunan tubuh, menyimbolkan ikatan antar manusia dalam hubungannya yang unik. Pada tumpukan menyerupai tubuh yang berjalin dan bertindihan membentuk menara, ada upaya kolektif untuk mencapai sesuatu yang tinggi, menuju tempat yang dibayangkan lebih baik, meski penuh risiko.
Dalam repetisi rajutan yang monoton, Falelerie telah menjadikan karyanya yang diam dan lembut sebagai gugatan tegas pada kemanusiaan.
Avatar Kisah
Ketika memandang karya-karya yang tergantung di dinding, pikiran lambat laun akan menyadari, bahwa karya-karya itu sesungguhnya tidak dibuat untuk mata. Mereka hadir untuk menyentuh hati, menggugah rasa, yang sering kali dikelabui pandangan. Karya-karya itu digubah untuk menyampaikan yang tak kasat, yang bersembunyi di balik wujudnya.
Bagi keempat seniman ini, karya adalah wakil diri. Avatar dari peristiwa yang masih terus berlangsung - penyimpan kisah pada tubuh dan pikiran mereka. Tidak ada pernyataan tegas yang diucapkan apalagi diteriakkan melalui karya-karya yang ditampilkan. Penonton diajak untuk tidak terburu-buru menilai dan menafsirkan secara pasti melainkan merasakan dengan perlahan – sebab seringkali perasaan yang dalam tentang sesuatu tidak hadir melalui kata-kata.
Senyuman pada wajah sosok perempuan dalam lukisan Tusita, rangkulan tubuh-tubuh sewarna tanah pada lukisan Mutiara, jalinan tubuh-tubuh yang tergolek dan bertumpuk pada karya Faelerie, dan lapis-lapis garis pada lukisan Dwipuspita menyimpan kesadaran yang cukup matang tentang ruang hidup manusia. Secara sadar mereka mengawinkan pengalaman dengan nilai sosial sebagai strategi bertahan, untuk membentuk identitas yang dapat diterima lingkungan. Semacam topeng sosial yang membuat mereka bisa memilih bagian mana dari diri mereka yang boleh dilihat, dan sisi mana yang perlu mereka lindungi.
Tak hanya pada identitas diri mereka, empat seniman ini pun menggunakan cara yang sama dalam berkarya. Kesadaran yang baik tentang diri dan lingkungan, keberanian untuk mencerap serta menggunakan bentuk dan simbol yang dikenali umum menyatu dengan pandangan personal – menjadikan karya-karya mereka terasa familiar namun memiliki karakter yang khas.
Seniman-seniman terlihat begitu mudah “menaklukan” simbol dan tanda yang mereka temukan, mengubahnya menjadi “milik mereka”, menghadirkannya dengan gaya mereka yang khas. Apapun yang mereka masukkan ke dalam karya yang mereka buat serta-merta menjadi milik mereka, bersuara untuk mereka tanpa perlu dipertanyakan lagi dari mana sumber dan referensinya. Sesuatu yang cukup jarang ditemui pada karya seniman-seniman lain.
Karenanya tidaklah berlebihan untuk menyebut bahwa setiap karya yang dibuat oleh keempat seniman ini adalah avatar dari peristiwa yang lebih besar, mewakili satu episode di tempat lain yang menyimpan satu kisah dalam hidup senimannya.
Tiap karya adalah kalimat panjang nyaris tanpa titik, yang dipaksa berhenti karena terbatasnya ruang. Penggalan pengalaman yang terus bertautan, menyusun paragraf-paragraf tentang kehidupan dalam episode demi episode masih berlanjut. Setiap karya seolah menjadi thumbnail untuk sebuah cerita, yang menunggu untuk dibuka dan siap membawa kita ke tempat lain.
Melalui karya-karyanya, seniman-seniman ini mencatat perjalanan hidup mereka. Merekam ingatan sambil terus bergerak dan tetap tegar menghadapi hidup. Bagi keempat seniman ini membuat karya seni bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan memahami diri mereka sendiri. Dengan tampilan yang terbilang sederhana bahkan terlihat tidak ingin menjadi istimewa, kita justru diajak masuk ke dalam dunia si seniman.
Tidak akan cukup memahami, apalagi menilai seniman-seniman ini dari satu atau dua karya dengan bidang terbatas. Cerita hidup yang mereka tuangkan ke dalam karya masih terus bertambah. Karya demi karya yang telah dan sedang mereka kerjakan akan selalu berkaitan, seperti kisah bersambung yang masih jauh dari adegan penutup. Setiap lukisan adalah pintu menuju lukisan lain Setiap cerita adalah tuas pembuka ruang tampat berkumpulnya kisah lain.
Setiap karya adalah avatar untuk karya berikutnya, dengan rangkaian kisah dan peristiwa yang tak akan pernah habis.
Seperti jalinan benang, lapisan garis, dan komposisi warna yang masih akan bersambung, karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini juga menjadi lembar-lembar catatan yang belum rampung benar. Episode belum berakhir, kisah-kisah lain masih menanti waktu tayang. Memandang karya mereka mungkin akan akan membuat kita makin menyadari bahwa mencipta seni adalah merekam satu bagian cerita kehidupan, dalam proses panjang untuk memahami hidup.
Maka tepatlah kiranya jika buah tangan seniman-seniman ini dimaknai sebagai ajakan untuk bersama-sama mengenali lebih dalam pengalaman hidup masing-masing. Menjalani tiap bagian yang terus datang menjelang dengan keberanian dan keteguhan hati, tanpa perlu menjadi heroik.
Ajakan untuk kembali menjadikan seni sebagai jalan memahami diri sendiri. Kembali menjadikan seni sebagai penggali sekaligus perekam pengalaman hidup, dan terus menyelipkan pertanyaan :
“Ada apa di balik ini semua?”.
Pertanyaan yang akan terus mengikuti setiap manusia, sebab hidup adalah kumpulan kisah yang masih di tulis, dan seni adalah avatar bagi kisah hidup di atas medan peristiwa.
Gusbarlian
Bandung, Januari 2026







